Politik dan Peradaban

Sejarah manusia umumnya dilandaskan atas catatan mengenai sebuah masyarakat tertentu, baik berupa prasasti, catatan ekspedisi, atau lainnya. Selain itu, penanda yang juga sering dipakai adalah politik, berdirinya sebuah kerajaan. Sejarah perkembangan Jawa misalnya, kita selalu sibuk membuat penandanya melalui ada tidaknya kerajaan yang berdiri. Memang, sebuah kerajaan sebagai institusi yang tertib akan memudahkan kita memahami banyak hal tentang sebuah masyarakat. Misalnya, sejarah perkembangan Jawa orang melihatnya melalui adanya Tarumanegara atau Salakanegara yang lebih awal. Tarumanegara sebagai kerajaan dianggap sebagai institusi politik awal di tanah Jawa. Kesalahan terbesarnya adalah menganggap bahwa tanpa adanya kerajaan tanah Jawa itu mlompong tanpa penduduk dan tanpa peradaban. Memang sangat sulit tanpa adanya bukti catatan tertulis, dan itu biasanya hanya dihasilkan oleh sistem politik (kerajaan). Tapi tentu terlalu naif, jika hanya mengandalkan itu untuk menilai bahwa tanah Jawa hanya diisi dengan jin, gendruwo, demit, peri dan sejenisnya.

Jika kita membaca sejarah/kisah para tokoh pendiri kerajaan awal di Nusantara, semuanya adalah pendatang. Dermawarman pendiri Salakanegara adalah pengungsi, Jayasingawarman pendiri Tarumanegara adalah juga imigran, pendiri Kutainegara demikian pula, dari orang-orang Bharata (India). Tokoh semacam Aki Terim, penduduk lokal yang kemudian menjadi mertua Dermawarman dan akhirnya menjadi mertua raja Salakanegara apakah hidup sendirian? Tentu mereka sudah punya koloni, meski bukan sebesar kerajaan. Kisah orang-orang Jawa dan Konung dari pesisir utara Rembang, didirikan oleh Dhang Hyang yang juga pengungsi, melalui Sampit (kalimantan) yang asalnya dari China. Bahkan kisah Raja Manu (1200 SM) beragama Hindu dari Vaivasta juga pendatang yang katanya melawan kekuatan jahat sisa-sisa ilmu sihir dari masyarakat Atlatansi yang dikuasai kegelapan. Tentu ada masyarakat Atlantis yang baik. Kisah Semar dari gunung Tidar saat bertemu Syeh Subakir itu sudah “tidur” 9ribu tahun, bisa jadi dia adalah warga Atlantis yang baik itu.

Dengan ini seolah ingin dikatakan bahwa peradaban sebuah bangsa tidak akan maju jika tanpa politik kekuasaan, tanpa adanya sistem kerajaan. Bahkan ada yang meyakini kalau bukan sistem Khilafah pasti dianggap menyalahi kehendak Tuhan. Padahal sebelum adanya kerajaan, sebelum para pendatang itu di tanah Jawa, sudah berkembang masyarakat yang juga mempunyai keyakinan (soal keabsahan keyakinan itu lain hal). Mereka juga bisa hidup rukun, damai bahkan bisa menerima para pendatang, bisa menjadikan mereka sebagai bagian dari dirinya. Sehingga karena pengalamannya kalah dalam politik kekuasaan, akhirnya mereka mendirikan kerajaan di sini.

Sebuah peradaban tidak harus dibangun dengan politik tertentu, sebab politik lahir dari sistem sosial yang ada lebih dahulu. Jika di Jawa ditemukan fosil “manusia awal” berumur 700.00 SM, bukankah bukti Jawa tidak dihuni gendruwo dan demit sebelum adanya raja-raja? Dan bahwa manusia, termasuk orang Jawa tidak harus mempunyai raja untuk hidup rukun dan damai, atau untuk menjadi beradab. Bahkan sebaliknya, politiklah yang bisa menjadikan manusia biadab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s