AKSARA JAWA, ISLAM DAN AJI SAKA #3

Memahami legenda sangat tidak mudah, apalagi kemudian dituntut kevalidan atau kebenaran dan kecocokan dengan temuan sejarah. Sebab legenda adalah kisah tutur, mengenai kejadian masa silam, yang sangat sulit melacaknya dalam kurun waktu. Termasuk memahami legenda Aji Saka. Kerumitan tersebut juga disebabkan faktor begitu ragamnya variasi legenda Aji Saka. Ada versi yang menyebutkan Aji Saka datang dari negeri Majeti (India?), atau dari negeri Rum (Persia?) atau dari keturunan nabi Ishaq (Ibrahim).

Dari sekian versi saya mencoba meringkas beberapa hal:

  • Bahwa legenda Aji Saka berkaitan dengan sebuah perubahan besar, baik politik dan budaya. Kisah Aji Saka versi Majeti mengarah kepada politik kekuasaan, bahwa kelak raja-raja Jawa adalah keturunan Aji Saka. Ini juga muncul pada versi serat Musarar Jayabaya, yang mempertemukan Aji Saka dengan syeh syamsu zain yang mengenalkan siklus kekuasaan di tanah jawa (muncul 7 masa di Jawa; berkembang seperti ada kalatidha, dan sebagainya). Atau pada kisah Babad tanah Jawa yang menyebut prabu Jayabaya bertemu dengan Aji Saka dari Rum yang meramal bahwa nanti keturunan Jayabaya akan menjadi penguasa di tanah Jawa.
  • Berkaitan poin 1, maka sebenarnya ada tokoh Aji Saka yang kelak menurunkan raja-raja Jawa dan Jayabaya, bukan Aji Saka. Jayabaya dalam versi ini mengaitkan bahwa di masih keturunan Parikesit bin Abimanyu bin pendawa. Ringkasnya satu menyebut Aji Saka sebagai cikal bakal raja-raja, satunya tidak, tetapi Jayabaya yang sudah bertemu Aji Saka.

Legenda Aji Saka dengan demikian adalah legenda tutur yang keberadaannya jauh sebelum Majapahit. Kisah itu sudah ada, dengan beragam versinya. Kesemua versi menunjukkan adanya penggunaan legenda ini sebagai legitimasi kekuasaan politik, bahwa para raja adalah keturunan orang hebat, keturunan dewa. Itu poin pentingnya. Sebutan Aji Saka sendiri juga beragam, ada yang mengartikan utusan negeri Saka (India), ada yang menyebut sebagai cikal bakal. Saya, secara substantif, lebih memilih arti yang kedua, yakni cikal bakal. Apapun versinya itu menunjukkan kisah mula peradaban, baik versi dari Rum, India atau Lainnya. Ada babak baru dalam kehidupan. Sebutan Aji pada era Majapahit adalah sebutan untuk yang dihormati, dimuliakan. Saka sendiri berarti punjer, cikal-bakal. Ini bisa diartikan demikian. Jadi Aji Saka adalah sosok pemula, perintis.

Nah bagaimana dengan aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka? Dalam banyak versinya, legenda Aji Saka berkaitan dengan Aksara Jawa. Namun jika kita cocokkan dengan temuan sejarahnya, justru tidak semuanya nyambung. Ketika era awal kerajaan Hindu di Jawa, huruf yang berkembang bukan aksara Hanacaraka, tetapi Pallawa. Artinya jika legenda ini dikaitkan dengan Hanacaraka tidak tepat. Namun bahwa kedatangan Aji Saka membawa budaya literasi baru, saya setuju. Aksara Jawa yang disebut Hanacaraka baru muncul pada akhir Majapahit dan awal Demak, kemudian berkembang pesat di era Mataram Islam. Saya menyimpulkan bahwa legenda Aji Saka yang berkisah soal 2 utusan itu untuk memaknai Hanacaraka muncul di era ini. Sebab versi Aji Saka sebelum itu ada yang fokus soal raja-raja Jawa (dalam kisah Jayabaya) atau perebutan kekuasaan dengan Dewata cengkar keturunan prabu Watugunung. Ini soal kekuasaan. Lagi-lagi legenda Aji Saka dijadikan upaya untuk legitimasi atau upaya agar masyarakat mampu menerima sebuah “hal baru” yang dibawa oleh seseorang tokoh (dan pengikutnya). Tokoh tersebut itulah yang disebut Aji Saka.

Dalam kisah Jayabaya, sebenarnya Aji Saka itu sendiri bisa jadi adalah untuk menggambarkan legitimasi Jayabaya atau Aji Saka itu sendiri ya Jayabaya sebagai cikal bakal raja-raja di tanah Jawa. Versi Aji Saka yang datang bersama Wisnupun juga demikian, Aji Saka adalah cikal bakal raja-raja di Jawa. Sementara Aji Saka dalam urusan aksara, ya tokoh cikal bakal dari pengembangan aksara Hanacaraka. Lalu siapa? Dalam hal ini ijinkan saya menduga atau menyebut satu nama. Jika salah kemudian, bisa dikoreksi.

Di wilayah pesisir Majapahit berkembang aksara pegon oleh Sunan Ampel, maka di pedalaman atau pusat kota Majapahit berkembang aksara Hanacaraka. Dia adalah Ki Supo yang sudah bisa masuk dan diterima oleh Majapahit. Kemudian aksara Hanacaraka ini dikembangkan oleh keturunannya, sama halnya arab pegon dikembangkan oleh santri dan keturunan Sunan Ampel. Hanacarka yang berkembang pesat oleh Mataram Islam, maka saya berkesimpulan, raja-raja Mataram adalah keturunan dari ‘Aji Saka’ sang pembaharu aksara di Jawa. Dugaan ini akan nyambung dengan versi Aji Saka dengan naga Baru Klinthing, di mana kemudian lidahnya setelah diputus menjadi keris luk 9, melambangkan legitimasi keberadaan walisanga. Mataram menyebut kejadian itu di pengging. Aji Saka yang mampu menundukkan naga ini adalah “Aji Saka” yang juga termasuk bagian dari wali tanah Jawa. Lalu siapa ki Supo yang jadi cikal bakal atau pembaharu peletak dasar aksara Hanacaraka? Jika dirunut ke atas raja-raja Mataram dan dicocokkan dengan masa sunan Ampel, beliau menurut saya adalah Maulana Ishaq. Maulana itu ya Aji sebutan di Jawanya, sementara Iishaq lebih dekat dengan lisan Saka, seperti halnya dugaan sementara orang Aji Saka sebagai keturunan Nabi Ishaq.

Apakah demikian kebenarannya? Wallahu ‘alamu.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s