Berdebat Gaya Gatholoco

Di antara anda pasti ada yang pernah membaca buku bertema soal debat. Misalnya menang debat lawan… atau berdebat yang cerdas atau berdebat membantah ….
Serat Gatholoco menurut saya mengajarkan cara berdebat yang simple tetapi memiliki keampuhan luar biasa. Paling tidak ada dua model pokok yang bisa saya dapat dari model debat Gatholoco, pertama adalah mengikuti si penyerang dan kedua adalah mengajukan pertanyaan atau teka-teki.

Ketika Gatholoco diserang ketika memperkenalkan diri bernama Gatholoco. “Namamu itu jelek, porno, haram, najis dan makruh, padahal disebut dalam kitab yang haram pasti masuk neraka”. Tuduhan bertubi-tubi hanya karena namanya Gatho (kepala dzakar dan Loco digosok-gosok = Masturbasi) maka langsung dicap jelek, porno, haram, najis dan makruh. Duh tuduhan berlipat-lipat. Apa jawab Gatholoco.

Gatholoco TIDAK membantah, bahkan ia menyatakan “Sun Lilani”, artinya ya silakan, saya memang jelek, porno, haram, najis dan makruh. Padahal yang dimaksud Gatholoco adalah barang halus, lanang sejati, dan barang yang ditelisik. Sebutan Gatholoco adalah perlambang orang yang mau meneliti hati, dengan cara diteliti (kinisik), diloco (diaduk-aduk untuk mengenal isi hati). Jawaban itu adalah soal perspektif, dan kemudian memberi alternatif pemahaman berbeda dan membawa substansi berbeda.

Gaya debat Gatholoco model ini sering dilakukan oleh teman-teman. Ketika tuduhan Bid’ah bertubi2 dilancarkan, maka tidak menolak, “Ya saya ahli bid’ah, bid’ah hasanah”, atau ketika dituduh sebagai penyembah kubur, maka muncul istilah “ Sarjana Kuburan”. Intinya kita tidak menyerang dan melawan langsung tuduhan, kita punya perspektif lain, dan itu masih bisa dikuatkan dengan eksplanasi yang kuat. Kemampuan meniru gaya Gatholoco ini dibutuhkan wawasan yang luas, berani mengambil posisi perspektif yang “aneh”, tetapi manjur untuk membungkam atau bahan bikin naik pitam pihak lawan, dan kehilangan kendali. Padahal Gatholoco sendiri tetap tertawa. Gaya ini sebenarnya melatih orang bisa memiliki spectrum yang luas dalam memandang dunia dan orang lain.

Seperti status saya waktu lalu, ketika dituduh sebagai pengikut ajaran nenek moyang, saya IYAkan, tidak saya bantah langsung, tetapi ajaran yang seperti apa itu dulu yang harus jelas. Dulu ada kisah Kang Bangkak dan Mbah Lalar yang benar-benar mengikuti gaya Gatholoco dengan sempurna. Sayang kisah itu sudah hilang (Maklum penulis utama sudah jadi juragan Suwuk). Hanya mereka yang berkacamata kuda saja yang tidak akan pernah bisa memiliki spectrum pandangan luas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s