SIAPA BANGSA JAWA ITU?

Pertanyaan ini jika dijawab dengan sudut pandang etnologi, maka bisa jadi rumit, karena siapa sebenarnya yang pertama kali hidup di tanah Jawa, akan sulit dijawab. Ditambah lagi kemudian dengan perkawinan antar etnis sepanjang zaman, tentu melacak keaslian etnis akan sangat sulit, dan akhirnya sangat debatable.

Dalam Layang Joyoboyo, yang menyebut bangsa Jawa, menurut saya bukanlah soal etnis. Tetapi lebih pada pandangan substantif. Artinya definisi bangsa Jawa yang dijabarkan dalam layang tersebut bisa diterapkan kepada semua jenis etnis di dunia ini.
Memang dalam Mokoholo:12 disebutkan demikian: “Gusti kang moho kuwoso, kang nduweni panguwoso kang gede, ono ing djagat iki. Ugo siro bongoso Djowo kang tak paringi kadegdayan, marang bohoso ngoko, bohoso kromo inggel, bohoso kromo madyo, bohoso ngawi ngisor, bohoso ngawi nduwor, ugo isine layang Djojobojo. Supoyo siro kabeh biso nenuwon marang Gusti nganggo, opo kang dikarepake Gusti”.
(terjemahan: Hanya Tuhan Yang Mahakuasa yang menguasai jagat ini. Bangsa Jawa juga demikian, berkuasa, tetapi atas pemberian Tuhan, yaitu kemampuan berbahasa ngoko, krama inggil, kromo madya, ngawi ngisor dan ngawai nduwur (tingkatan bahasa, dari yang paling kasar sampai sangat halus), serta isi layang Joyoboyo, agar kalian bisa memohon kepada Tuhan melalui apa yang sudah dikehendaki Tuhan”).

Apakah kemampuan berbasa yang mengenal tingakatan seperti itu hanya milik etnis Jawa? Tentu tidak. Banyak bahasa yang mengenal tingkatan kehalusan. Kehalusan bahasa ini (berbasis bahasa Ibu) adalah bahasa yang baik, tepat berangkat dari hati nurani terdalam setiap manusia. Ketawadlu’an, penghormatan dalam permohonan kepada Tuhan adalah yang dikehendaki oleh Tuhan. Itulah sopan santun, dimana setiap bangsa/etnis tentu memilikinya dengan cara dan warna yang berbeda.

Lantas siapa bangsa Jawa yang sesungguhnya dikehendaki dalam Layang Joyoboyo sebagai sumber agama Kejawen ini? Saya kutip dalam Hodjorolo:10: “Gusti pareng sabdho: bongoso Djowo, yo kuwi bongoso kang wiwitan, kang dadi tjiptakane Gusti, kang teko ing bumi mulyo iki kang nggowo kuwasane Gusti, sak durunge ono djalmo manungso…”
(terjemah: Tuhan bersabda: Bangsa Jawa, yaitu bangsa/manusia yang pertama, yang diciptakan, yang datang di bumi suci, yang membawa kuasa Tuhan, sebelum adanya jalma manusia’).

Ayat ini perlu dibedakan, yakni bangsa/jalma kawitan (awal) dan jalma manusia. Jalma/ciptaan awal yang datang di bumi suci, maksudnya adalah setiap manusia yang ada di rahim ibunya. Sebab dalam konteks ini bumi suci adalah Rahim/kandungan. Sementara jalma manungso, adalah yang sudah lahir. Keterangan ini diberi tambahan penjelasan dalam Djoborolo:23: “ Tjubo dipiker kang tenanan, marang pangomonganku iki. Siro ditjiptakake Gusti, soko: Lemah, geni, banyu, lan angin, bandjor teko udjute siro kang moho sutji ing bumi mulyo iki. Awet siro djalmo manungso djowo kangwiwitan, kang teko ono ing djagat iki, kang nggowo kuwasane Gusti, kang 35 dino”. (terjemah: cobalah direnungkan, terhadap sabdaku ini. “kalian dicptakan Tuhan dari tanah, api, air dan angina, kemudian sampai wujud di Rahim. Karena itulah sebagai manusia awal, kemudian datang ke dunia ini dengan membawa kuasa Tuhan yang selama 35 hari”). Kondisi awal yang masih suci bersih dalam pandangan ini, sampai pada usia selapan (35 hari), dan itu masih dalam kategori manusia awal. Dan itulah yang disebut bangsa Jawa.

Dengan demikian, agama kejawen itu mengingatkan akan asal-usul ini sebagai bangsa Jawa, untuk berpikir dan merenung, menemukan kembali kesucian seperti pada awalnya. Maka tidak mengherankan, ayat-ayat dalam Layang Joyoboyo kemudian menyebutkan bahwa bangsa Jawa pasti akan lupa akan asal-usulnya, lupa pada Jawanya, karena sudah hidup di dunia ini dengan pula diiringi setan yang ada dalam raganya. Banyak sekali peringatan soal ini. Seperti dalam Hosoropolo:5: “Gusti pareng sabdho: bongoso Djowo kabeh kang ono ing djagat iki, bakal ora mirengake maneh marang ngendikane Gusti. Awet sabdhoning Gusti kuwi uwes luweh disek teko”. (terjemahan: Tuhan bersabda: bangsa Jawa semua yang ada di jagat ini, akan melalaikan sabda Tuhan, padahal sabda Tuhan sudah datang *) ketika dalam kandungan”). Demikian pula dalam Mokoholo:14: “Pangelingan siro bongoso Djowo, kang uwes manggon ono ing sirahe siro, bakal disirnakake Gusti soko kahuripane siro…” (terjemahan: ingatan kalian, hei bangsa Jawa yang sudah ada dalam kepala, bakal sirna dari kehidupan kalian). Ini terjadi ya karena sudah masuk dunia penuh bahaya.

Nah, apakah anda sadar sebagai orang Jawa, atau hanya merasa jadi orang Jawa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s