HILANGNYA “AGAMA” KEJAWEN

“Gusti kang moho mreksani marang kedadian kang nyoto, marang tumindakhe bongoso Djowo kang ora nerimo marang peparingane Gusti kang moho sutji. Bandjor Gusti pareng sabdho: Yen tanah djowo katekan djalmo manungso liyo kang dadi tjiptakane Gusti. Agomo Kedjawen lan sak isine layang Djojobojo, kang ditules: Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo, kanggone leluhure bongoso Djowo, bakal tak sirnakake deneng kuwasane Gusti, kang moho sutji” (Surat Hodjorolo:11, Suhuf Joyoboyo).
“Tuhan Mahamengetahui kejadian nyata, mengetahui tingka laku bangsa Jawa yang tidak menerima pemberian Tuhan Yang Mahasuci. Kemudian Tuhan bersabda: jika tanah Jawa kedatangan manusia lain yang juga ciptaan Tuhan, agomo kejawen da nisi dari layang Joyoboyo yang ditulis oleh: Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo, leluhurnya bangsa Jawa, maka bakal aku sirnakan karena kuasa Tuhan Yang Mahasuci”.

Ini adalah peringatan bagi orang Jawa, bagi kejawen yang sudah tidak mengindahkan ajaran/agama leluhurnya yang sudah ditulis dan diajarkan oleh empat malaikat pendampingnya. Dengan kata lain, ketika manusia Jawa sudah mengabaikan budinya, rasanya, pikiran dan sukmanya serta manusia Jawa sudah lupa pemberian dari Tuhan, berupa kasih sayang yang melimpah bisa hidup didunia dengan didampingi empat penjaga tersebut, maka agama/ajaran Kejawen akan disirnakan oleh Tuhan sendiri.

Ada dua faktor utama, mengapa kemudian kejawen disirnakan, akhirnya orang Jawa menjadi tidak njawani. Pertama, faktor lalai, lupa bahwa semua yang dimiliki, diterima dalam kehidupan ini adalah dari Gusti Yang Mahasuci. Ini juga disebut dalam (Djoborolo:25): “ Gusti pareng dawoh: Yen Gusti ndeleng kahuripane siro bongso Djowo, kahuripane siro kabeh nggawe nelangsane Gusti. Sedjatine siro kuwi mangerteni, deneng Gusti kuwi kang maringi, sak kabehe marang kahuripan siro”. Ya, karena manusia Jawa tidak pernah menyadari akan pemberian Tuhan.

Faktor kedua, adalah kedatangan manusia lain yang mengajak melupakan ajaran sejati, ajaran yang dibawa oleh empat malaikat. Manusia Jawa lupa bahwa dalam dirinya ada budi, rasa, pikiran dan sukma yang selalu mengajari ajaran (agama) Gusti Yang Mahasuci. Malah-malah berkeliaran ke mana-mana. Ini disinggung dalam (Hosoropolo:2) : “Anangeng sabdhoning Gusti kang uwes tak tules ono ing layang Djojobojo, kanggone siro bongoso Djowo. Gusti pareng dawoh: siro bongoso Djowo, bakal ninggalake agomo peparingane Gusti kang moho sutji. Lan Gusti pareng sabdho: siro bongoso Djowo bakal lungo adoh, kanggo nggolekhi asmone Gusti, siro dewe bakal ora nduweni katentreman, yen siro kuwi lali marang asmone Gusti, kang uwes temuron kanggone siro, ing tanah djowo”. Dalam ayat ini tegas, bangsa Jawa akan berkeliaran ke mana-mana, karena tidak mengenal asli jati dirinya, lupa pada Gusti Yang Mahasuci, lupa pada asmanya. Jika sudah demikian, maka jangan harap akan ada ketentraman dalam hidup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s