PENGORBANAN

“Tuan Syech, apakah dahulu Kanjeng Nabi Muhammad juga mengorbankan diri, sehingga beliau memiliki derajat yang demikian tinggi?”
“Benar saudaraku. Ber-Islam, mendekat kepada Hyang Haq, tak akan terjadi tanpa pengorbanan. Apa yang dulu aku lakukan (pernah kuceritakan padamu) hanya usahaku meneladaninya. Tak lebih dari itu”.
“Beliau mengorbankan keakuan yang tertinggi dalam sepanjang sejarah manusia, bahkan alam raya ini. Beliau adalah sayyidur rasul, sayyidul anam, tapi saksikanlah yang dikurbankan, yakni keakuan sebagai pembawa Al Haq. Para Nabi dari bangsa Israel dideklrasikan juga pembawa Al Haq, saudara dari leluhurnya, Ismail. Beliau melepaska keakuan yang demikian tinggi, bahwa kebenaran tidak hanya miliknya, meski ia adalah penghulu dan penutup para nabi, dan rasul. Beliau sadar, meski bani israel tetap saja membencinya.”
“Apakah berarti kebenaran bisa dibawa siapa saja?”
“Ya, saudaraku. Bahkan bangsa non Israelpun bisa. Itulah yang dimaksud, katakanlah yang Haq, meski itu pahit sekali.”
“Pengorbanan keakuan pembawa Al Haq, masih ditambah pengurbanan akan kenasaban. Meski para leluhurnya adalah juga pembawa Haq, dan penjaganya, tetapi jalur nasab Al Haq, disimpan rapat.”
“Beliau sadar dengan kedudukan demikian tinggi diterimanya, maka pengurbanan yang besar juga dilakukan untuk mengorbankan ke-aku-annya. Itulah “ana Ahmad, bilaa Mim, ana Arab, bilaa ‘ain..itulah hendaknya disaksikan oleh seluruh manusia”.
“Apa maksudnya Tuan Syech?”
“Teladanilah Nabi Muhammad, kelak kau akan memahaminya”.
NB: dialog ini rekayasa saya terinspirasi dari Novel Suluk Abdul Jalal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s