Tentang Makrifat

Pupuh IV, Pocung, Serat Kanda Tjeta

Maksudnya makrifat itu mengetahui HIDUP, yang katanya berkaitan dengan dengan Gusti Allah.
Hidup itu ada tiga, pertama Hidupnya anak-anak, kedua Hidupnya gerak, dan ketiga Hidup langgeng. Raga itu hanya wadah saja, ya namanya wadah, jika isinya sudah keluar, tiga hari saja, wadahnya akan rusak. Hidupmu saat ini, kaki masih bisa berjalan, tangan bisa melambai, sebab ada gerak, yang disetir oleh rasa. Yang mana rasa tadi, dikendalikan oleh Aku, Aku siapa?, Aku Zat yang meliputi, keadaan berada dalam kegaiban.

Dulu, kala saya masih suga berguru, pernah dinasehati, setelah dijelaskan tentang hidup, sampai Aku (Ingsung) itulah yang terakhir. Sebab itu, zat yang meliputi bumi langit dan seisinya tidak terlewatkan. Termasuk, triloka jagad, dan semua lapisan aku yang menguasai, tidak beda sebagai petunjuk adanya Zat. Ketika aku (ingsun), berada di baital makmur, ada di otak, di antara otak dan intinya, di dalamnya ada budi dan nama. Nama itu jelasnya angan-angan, kemudian ada suksam, kemudian ada rahsa, ada aku zat yang meliputi ke-ada-an. Aku yang ada di baital haram, ada di baital muqaddas, dalam mani, madi, aku tidak ada. Mencari aku (ingsun), saya cari setahun penuh, saat sampai, ternyata tidak ada aku-aku, tidak ada siapa-siapa.

Sautu saat ada guru, yang memberi nasehat, bahwa adanya Aku yang sejati itu ya roh suci air permulaan. Jika dikehendaki ada di baitul makmur, memberi pencerahan pemikiran, menjadi eling, namun jika ada di baitul muharram Ada di jantung, menjadi tergeraknya hatimu, menjadi sadar, sebab air permulaan, jika ada baitul muqadas, menjadi rahsa. Maka dari itu, jika condong pada rahsamu, aku sudah manunggal, menyatu sarinya trimurti, air kehidupan menetes menjadi daya cipta.

Saya agak cocok, mendapat guru yang menjelaskan seperti ini. Adanya Aku sejati, saya belum bisa menerima. Saya masih mencari, Maha Gusti yang sebenarnya, yang disebut Allah, atau yang menghidupkan, yang menciptakan ruh suci, menciptakan air permulaan. Katanya, Dia lebih dekat denganku, langeng, tak berubah, hidup tanpa ruh. Saya pernah, memegang talinya hidup, ketika saya menahan napas, lha ini,….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s