Tentang Tarekat

Serat Kanda Tjeta, Pupuh II, Pangkur

Yang disebut tarekat yaitu meneliti laku hati, supaya lega (plong), lebih baik lagi bisa tentram yang berguna buat dirimu. Sebab hati tentram itu berbeda dari lega hati. Lega hati itu hanya sebentar, ketika sesuau yang dituju tercapai. Sementara yang disebut tentram hati itu tidak berbeda seperti tanaman, asal rutin menyiram ya subur, namun jika tidak rajin, ya layu daunnya. Apalagi di musim kemarau terik, pohonnya sangat membutuhkan air kasing sayang. Itulah ibaratnya jika engkau ingin mengetahui bagaimana rasanya disiram air. Jika tidak disiram saat kemarau, daunnya akan rontok.

Namun jika tentram yang sebenarnya, adalah kokoh seperti gunung besi, kalau pohon seperti glugu (pohon kelapa), tak ada bedanya disiram atau tidak, karena sudah memperoleh siraman sarinya tanah, bahkan buahnya bermanfaat.

Badan itu hanya menjalani apa perintah hati, ke barat, utara, selatan atau timur, susah atau senang, semua sebab perbuatanmu. Maka harus memperhatikan suara hati. Sebab, umumnya manusia termasuk diriku, terbiasa terpelosok terseret godaan panca indra, lima nafsu berebut maju, tidak lewat mata, lewat telinga, atau hidung dan sebagainya.

Ke dapan, harus lebih berhati-hati, suara hati, jangan tergesa dituruti, dipikir panjang, apakah suara itu perbuatan nafsu, atau memang kasunyatan yang ke luar dari hati yang suci. Memang tidak mudah, harus melewati misteri, siapa saja yang mampu mengendalikan hati, itulah waspada, belajar sabar, ingat akibat yang tidak baik disebabkan nafsu hati.

Kendalikan panca idra, dengan sabar mengelola budi pekerti. Jika tidak percaya, tanyalah pada orang pandai, pasti untuk mengendalikan nafsu angkara murka adalah dengan cara seperti itu.

Latihlah dengan olah nafas, hening, eling, jangan sampai salah memahami, semua itu adalah cara yang menuntun hatimu supaya bisa sabar tawakkal. Itu bukan semedi. Mengetahui ilmu nyata, yakni kasunyatan suara hati. Jika hatimu berkata biru, ya biru yang sesungguhnya, bilang merah ya merah beneran, tetapilah suara hati itu. Itulah latihannya.

Itulah perkataan jiwa, melalui air kehidupan, diterima oleh rasa, rasa hidup yang sesungguhnya, bukan rasa akibat perbuatan nafsu. Jika bisa sabar, seperti air mengalir. Tenang seperti cermin. Kamu bisa fokus, tercapai kehendakmu, tidak kehilangan arah. Bahkan suara hati orang lain bisa mengetahuinya. Disebut diberi ilham, meski ilham kecil, tetapi bisa kau lihat jelas sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s