Kebangkitan Kaum Sarungan

Banyak Negara-negara atau bangsa di belahan dunia ini membentuk dan membangun bangsanya didasari atau terinspirasi oleh gerakan renaissance. Gerakan ini menyandarkan kepada kesadaran intelektual, menyelam kepada budaya klasik melalui upaya penelusuran filosofis maupun karya ilmiah lain dengan harapan akan lahir kembali sebuah peradaban baru, manusia baru. Mulanya berkembang di Eropa, kemudian menjalar ke berbagai belahan dunia. Kira-kira tahun 1500-an, menggantikan cara pandang baru atas dunia, yang sebelumnya dianggap terkungkung oleh dogma agama yang kaku dan menutup intelektualitas.

Gaung Renaissance begitu kuat sampai pada abad 19, dimana banyak bangsa berupaya membebaskan diri dari kolonial dengan spirit dan inspirasi ini. Maka tidak mengherankan lahir banyak tokoh intelek kemudian mendorong gerakan kelahiran bangsa-bangsa mereka sendiri. Kekuasaan Khilafah Ustmaniahpun tidak luput dari pengaruh gerakan ini. Mau tidak mau, pencerahan ala renaissance juga menjadi dorongan untuk membebaskan diri dari kekuasaan Turki Usmani tersebut.

Di belahan Jazirah Arab di tahun awal 1900-an dapat dibilang menjadi waktu bangkitnya nation-nation tersebut. Pasca perang dunia kedua, muncullah gerakan yang hampir mirip dengan Renaissance, tetapi ala Arab, yakni Baath (kebangkitan). Sebuah masyarakat Baathisme mencari pencerahan, kebangkitan dan kelahiran kembali budaya Arab, nilai-nilai maupun masyarakat. Setiap bangsa tentu punya sejarah atau kekayaan klasik yang bisa dijadikan rujukan untuk dibangkit dan digunakan sebagai kekuatan membangun masyarakat baru yang lebih tercerahkan. Lagi-lagi gerakan ini juga menyandarkan pada enlightment (pencerahan intelektual, akal pemikiran).

Bagaimana dengan di Indonesia. Para kyai, sebut satu saja KH Wahab Hasbullah sudah memulai penyadaran kepada masyarakat melalui gerakan nahdlatul wathan, gerakan cinta tanah air. Kemudian tahun1926 lahirlah Nahdlatul Ulama yang dipandegani oleh Hadratussyech KH Hasyim Asy’ari, yang tetap membawa misi pada cinta tanah air tersebut., serta menentukan arah bagi kemerdekaan tanah air Indonesia. Tahun 1934, Mbah Wahab menciptakan sebuah lagu yang kemudian dikenal sebagai “Ya Lal wathan/Hubbul Wathan” dengan menekankan pada Rasa Cinta Tanah Air.

Kalau melihat sekilas ketiga gerakan tersebut, semuanya adalah berbicara soal “Bangkit” dengan penekanan yang berbeda. Renaissance, adalah bangkit untuk lahir kembali, menghidupkan idealisme Yunani-Romawi yang menyandarkan pada kesadaran intelektual. Sementara Baathisme juga bangkit dengan menekankan pada tradisi atau kejayaan masing-masing bangsa. Ini juga menyandarkan pada pencerahan intelektual, akal pemikiran. Namun tentu berbeda dengan Nahdlatul Ulama yang justru mendahulukan rasa cinta (hati), bukan pada akal manusia, filsafat dan intelektual. Yang digugah adalah rasa yang bersemayam dalam kalbu bangsa Indonesia. Apapun masa lampau atau sejarah bangsa ini terukir, pada akhirnya diajukan sebuah pertanyaan: “Cinta kah kepada tanah airmu? yang sudah menghidupimu?”. Pemilihan kata Nahdlah juga mempunyai makna tersendiri, yang tentu berbeda dengan kata Ba’ath (yang ahli bahasa tentu mampu membedakan rasa dan maknanya. Nahdlah tidak sekedar bangkit (dari diam, tidur), tetapi kesadaran bergerak untuk menggerakkan pihak lain.

Eksistensi NU hingga sampai saat ini tentu merupakan bukti bahwa gerakan kebangkitan ala kaum sarungan dari para kyai bisa dinilai oleh semua pihak. Kata Prof. KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU, para kyai itu Ulama sekaligus Nasionalis. Jika di belahan bumi lainnya, nasionalisme itu lebih didominasi para intelektual yang bukan ulama atau kaum sekuler dan liberal, maka di Indonesia tidaklah demikian. Demikian pula gerakan keagamaan di Indonesia dipimpin oleh Ulama yang Nasionalis, di mana di belahan dunia lainnya didominasi oleh ulama yang manhajis (menonjolkan manhajnya, bukan nationnya).

Maka, mengapa anda tidak belajar dari para kaum sarungan, kyai kampung/desa di Indonesia yang telah melahirkan ide kebangkitan besar ini? Apakah masih tergila-gila dengan renaissance?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s