TRADISI MENJAGA DIRI (‪#‎AyoNyantri‬)

Interaksiku dengan Bapakku, seingatku tidak terlalu intens. Maksudnya waktunya sedikit sekali. Aku faham mengenai soal ini, karena kesibukan beliau sebagai guru agama waktu yang harus mengajar di banyak tempat di tiga kecamatan. Pulangnya kadang sudah larut, di mana aku sudah tidur. Pagi bertemu sebentar kemudian, sudah aktif ngajar atau ke kantor KUA. Terlebih kemudian, setamat SMP aku hijrah melanjutkan pendidikan di luar daerah kelahiranku. Itu sampai kuliah dan bekerja saat ini. Kalau toh bertemu itu ya liburan semester. Waktunya juga tidak banyak. Itupun banyak kumpul dengan teman-teman main di kampong. Dus pengajaran dari Bapak nampaknya tidak sebanyak, Bapakku mengajar orang lain.

Namun, aku merasakan benar, bahwa bapakku telah meletakkan tradisi yang sederhana dan kuat. Kelak di kemudian hari tradisi itulah ternyata yang mampu menjaga diriku dan ilmuku. Waktu aku SD, bapak mengajakku sowan kepada kyai. Aku tidak tahu menahu apa urusannya. Tetapi aku suka diajak begitu saja. Kebiasaannya,aku disuruh bapakku untuk menghabiskan minuman kyai-kyai itu. Tentu di saat minuman kyai sudah Nampak mau habis atau mau pamitan, minta ijin menghabiskan. Ini dilakukan berkali-kali. Tahuku hanya itu.

Rupanya, kebiasaan ini benar-benar menancap dalam dadaku, sehingga di kemudian hari, sosok kyai menjadi begitu prior (utaama) dalam kehidupan saya. Bagaimana tidak, aku diajarkan meminum itu dalam rangka “ngalap berkah” sekaligus bentuk takdlim dan nurut kepada kyai. Jangankan minumannya, andai ilmu saja diberikan tentu ridho untuk menghabiskan tuntas. Begitu kira-kiranya. Memasuki usia dewasa, aku selalu membutuhkan sosok kyai yang kuharapkan mampu membimbing ruhaniku. Ketika selesi dengan satu kyai, maka akan mencari kyai berikutnya. Tidak boleh dalam waktuku kosong dari sosok kyai pembimbing ruhni.

Sederhana sekali dulu bapakku mengajariku untuk menjadi pengikut kyai. Aku merasakan begitu ampuh pelajaran itu. Dan itu menjadi modal terbesarku dalam menghadapi berbagai persoalan, yang berusaha merujuk kepada bimbingan kyai. Inilah mengapa aku selalu merasa menjadi santri, yang terus membutuhkan bimbingan dari kyai. Dan jangan heran, jika kebiasaan menghabiskan minuman waktu kecil itu sudah aku tinggalkan, meski aku sudah punya keluarga sendiri. Mungkin ini termasuk “menjaga tradisi yang baik, mengambil modernitas yang baik pula”.

*) Catatan: foto berikut adalah Mbah Kiyai Ahmad Syahid Kemadu, Rembang, yang sisa minumannya paling banyak aku habiskan. Al Fatehah

‪#‎AyoMondo‬ ‪#‎AyoNgaji‬ ‪#‎AyoNyarkub‬

mbah-syahid-kemadu2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s