Persaudaraan

Anda mungkin pernah membaca atau mendengar ungkapan “ketika kamu berbuat baik, orang tidak akan bertanya, apa agamamu”. Namun di sisi lain, seringkali perbuatan buruk diasosiasikan dengan agama atau kelompok tertentu. Ketika ada bom, mengarah teroris, langsung pikiran ini mengarah kepada kelompok agama tertentu. Kalau berbuat baik, tidak peduli pada agamanya, jika buruk mempersoalkan latar belakang agama. Ini tentu tidak fair. Maksudnya, jika mau sama-sama perlakukannya, harusnya begitu. Jika ada bom, cukup mentok pada teroris, begitu saja. Tidak perlu dilanjutkan pada golongan agama.

Kebiasan sikap berbeda ini juga dipraktekkan dalam bentuk kebalikannya. Ketika melihat orang wahabi, dus langsung mencap teroris. Melihat orang ziarah kubur (biasanya orang NU), langsung mencap ahli kurafat, sesat. Ketika bertemu dengan syiah, langsung saja kuatir terkena dampak menghina sahabat nabi. Bertemu pelaku LGBT, langsung sudah tergambar neraka dan mereka isinya. Kemudian pandangan dan pikiran ini menggerakkan kebencian pada pribadi, memusuhi, menyerang dan merusak pribadi. Contoh-contoh semacam ini bisa banyak sekali.

Padahal, sederhananya mereka itu adalah manusia. Andai anda bertemu anjing lagi kawin sejenis, bisa jadi langsung anda bunuh. Tidak lazim di antara binatang. Nah, apakah itu juga akan anda terapkan kepada sesame manusia? Sesama manusia, menghirup udara yang sama, atmosfer bumi sama. Maka mereka disebut “sa’-udara”. Sesama manusia adalah saudara, karena sama-sama manusianya, ada pertalian, hubungan dan ikatan sesama manusia. Itulah ukhuwah insaniyah (basyariyah). Ketika manusianya sama-sama orang Indonesia, berarti saudara seIndonesia (ukhuwah wathaniyah), jika sesama muslimnya, maka ukhuwah islamiyah.

Dalam berinteraksi, seringkali ada perbedaan, bahkan konflik. Ada atau tidak ada konflik, persaudaraan itu adalah realitas. Tetapi mencegah perilaku membahayakan itu bukan berarti menghilangkan realitas itu sendiri, tetapi lebih pada menjaga realitas yang ada. Andai saja, semua muslim memberangus non muslim, apa yang kemudian terjadi? Yang tersisa hanya muslim. Jika sunny memberangus syiah, kemudian sesama sunny saling memberangus, kira-kira siapa yang tersisa hidup di dunia? Ya, tinggal hewan dan jin. Apakah kelak yang menjadi Khalifah itu KingKong?

Selamat menikmati kopi siang anda, bukan kopi si-anida

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s