Ngaji Gatoloco #4: Makna Gatoloco, Sebuah Pembelaan

Bismillahirrahmaanirrahiim
Teguh luput, Gusti Allah ora ketok

Sebelum membahas bagian pembelaan ini, saya ringkas dulu tiga bagian sebelumnya. Bahwa Gatoloco adalah pasemon, kritikan menggunakan simbol atau sanepan. Ketika Gatoloco mendekati para santri dan kyainya, dengan penampilan tidak patut/jelek dan rupa yang tak tampan, hardikan bertubi-tubi diterima Gatoloco. Orang-orang yang belum mengenal betul Gatoloco mudah menjatuhkan penilaian, vonis dan menentukan nasib surga dan neraka. Reaksi Gatoloco tidak langsung membalas dengan kemarahan, tetapi dengan asyik kebul-kebul (merokok), makan, cengengas-cengenges dan mabok. Sikap ini semakin membikin kalap dan semakin deras laknat yang diterima Gatoloco.

Ketika ditanya namanya, ia menjawab: “Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku têngah jagad”. Jawaban tegas, namanya Gatoloco, bagi saya adalah sebuah jawaban pasemon, jawaban yang sebenarnya sebagai kritik yang ditujukan kepada penanya. Seolah-olah rasa jengkel yang dipendam akibat hardikan, umpatan dan laknat yang diterima memunculkan jawaban yang terkesan sekenanya, seenaknya dan ngawur. Maka para guru yang mendengar jawabannya, tertawa terbahak-bahak, menganggap gila, semakin meyakinkan bahwa dzon yang sebelumnya disematkan benar adanya. Gatoloco itu manusia yang jelek, baik nama, kelakukan, rupa dan nasab.

Namun, saya memahami itu sebagai jawaban kritis, maka sebutan Gatoloco atau Masturbasi itu ditujukan kepada para pemvonis dan pelaknat, yang begitu mudahnya dikeluarkan tanpa tahu dan mengenal mendalam siapa gatoloco. Selanjutnya Gatoloco menerangkan soal namanya:

Gatholoco ngucap tannya aris, Dene sira padha latah-latah, anggêguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, Krana saking tyasingsun gêli, gumun mring jênêngira, Gatholoco muwus, Ing mangka jênêng utama, Gatho iku têgêse Sirah Kang Wadi, Loco Pranti Gosokan (14)

Gatholoco tenang bertanya, Kenapa kalian terbahak-bahak? Mentertawai apakah? Kyai Guru menjawab, Hatiku sangat geli, heran kepada namamu, Gatholoco berkata, Padahal itu adalah nama utama, Gatho itu artinya Kepala Yang Dirahasiakan, Loco artinya Dikocok.

Gatoloco bagi gatoloco tidak jorok.  Gatho itu kepala, utama, pemimpin. Letaknya dimana? Pada bait 13 disebut “omahku tengah jagad”, adanya ditengah jagad. Jagad dalam dunia mistik Jawa, ada jagad gede, jagad cilik. Manusia bisa disebut jagad cilik, sementara alam semesta jagad besar. Sebutan besar kecil bisa terbalik, jika itu menyangkut manusia. Berada di tengah jagad, artinya, gato itu ada di tengah diri manusia. Jika konstruksi fisik yang dijadikan ukuran, gato bisa diartikan penis. Bagi saya bukan itu. Gato lebih tepat dirujukkan kepada hati atau rahsa. Mari lanjutkan pada bait 15.

Marma kabeh padha sun lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yekti sun sauri bae, têtêlu araningsun, kang sawiji Barang Kinisik, siji Barang Panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lêlima, iya iku Gatholoco aran mami, prasaja tandha priya (15)

Maka aku rela jika kalian semua, mau memanggil aku apa, pasti aku akan terima, tiga namaku, yang pertama Barang Kinisik, satunya lagi Barang Panglusan, akan tetapi yang terkenal, di empat penjuru angin bahkan di-lima penjuru angin, ialah Gatholoco, tanda seorang pria sejati.

Gatoloco dapat disebut dengan tiga nama, yaitu Barang Kinisik, Barang Panglusan dan Lanang Sujati. Sebutan barang kinisik, bisa berarti diisik-isik (dielus-elus). Hati atau rasa manusia itu dielus, dirangsang, dilatih, mengolah berbagai ifnformasi. Tiap hari bisa berbolak-balik rasanya yang muncul. Memang hati itu seperti dikocok terus menerus setiap saat. Kadang sakit, kadang suka, kadang sedih, kadang galau dan sebagainya. Untuk memahami itu pula perlu ditelisik dengan jernih dan teliti. Jika hanya dikocok-kocok saja, yang terjadi ya Gatoloco yang merujuk pada masturbasi hati/rasa.

Hati adalah barang halus, oleh karenanya disebut Barang Panglusan. Sementara sebutan Lanang Sujati/Sejati, adalah hati yang asli, asal, belum terkotori oleh perkara remeh temeh. Sehingga dia akan mudah dikenali pada keempat penjuru dunia (keblat papat) dan lima pancer (pusat). Pemahaman seperti ini akan jumbuh dengan pemahaman masyarakat Jawa pada hati. Hati yang masih asli itu sebagai pertanda hati yang sejati, sebagai Lanang (LAN= Landepe, tajamnya, NANG= weNANG, kehendak, tekad). Dengan kata lain, Gatoloco itu meliputi tiga hal, pertama berkaitan dengan Kinisik (mengisik-isik, mengocok, mengolah, meneliti) berbagai lintasan hati, Halus (artinya lembut, samar), proses dua hal ini perlu dikuatkan dengan tekad yang tajam, sehingga benar-benar mampu mengetahui rahasia Gato (hati yang tersimpan).

Jika hati sering digosok kotorannya, diredam amarahnya, ditundukkan kesombongannya, itulah Lanang Sejati, ya Gatoloco. Namun jika yang digosok itu adalah rasa marah, sombong, dendam, benar sendiri, paling suci dan sejenisnya itulah Gatoloco yang hanya kulitnya, wujud sareatnya, mencari kepuasan sendiri semata, Masturbasi. Proses melocogato, menghasilkan sperma, benih kehidupan.

“Walaupun aku bukan priyayi, akan tetapi namaku adalah Rahasia Mulia, supaya kelak para keturunanku, akan menjadi priyayi besar (18 pupuh II).”

Benih yang terlahir dari proses meloco sejati akan menurunkan priyayi besar, akan menghadirkan manfaat besar bagi sekitarnya. Sebab ia adalah rahasia mulia (sir hati), hati nurani yang jernih, bening dan tersimpan rapi. Namun, jika itu gatoloco yang hanya sekedar Masturbasi, maka dia akan melahirkan angkara murka, kama wutah sak paran-parang (sperma/benih amarah dimana-mana).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s