Ngaji Gatoloco #3: Soal Nama

Bismillahirrahmanirrahiim
Teguh luput, Gusti Allah ora ketok

Serat Gatoloco, bagi saya sekali lagi adalah sebuah kritik atas sikap dan perilaku merasa puas, senang pada diri sendiri. Sementara orang lain atau pihak lain adalah diperlakukan sebagai obyek pemuas belaka. Ibarat sex, maka gatoloco itu memperlakukan pihak lain sebagai perangsang, kemudian berupaya memuaskan diri sendiri, meski pihak lain itu tidak pernah terlibat bersama dalam mencapai orgasme. Yang ada hanyalah khayalan diri.

Jika pada bagian sebelumnya, orgasme batin ini melalui penampilan dan rupa yang buruk pihak lain, maka dalam bagian ini adalah soal nama. Berikut saya kutip bait 13 (masih pupuh II) yang berbunyi:

Lah ta sapa aranira yêkti, sarta manêh ngêndi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku têngah jagad, Guru tiga ngrungu, sarêng denya latah-latah, Bêdhes buset aran nora lumrah janmi, jênêngmu iku karam.

Siapakah namamu sesungguhnya? Dan lagi dimanakah rumahmu? Yang ditanya menjawab pelan, Gatholoco namaku, aku manusia Lanang Sujati ( Lelaki Sejati ), rumahku ditengah-tengah jagad, Ketiga Guru mendengar, bersamaan mereka tertawa terbahak-bahak, Monyet! Busyet! Nama tidak umum dipakai manusia, namamu saja itu sudah haram!

Para guru menanyakan nama, dan dijawab namanya adalah Gatoloco. Ia mengaku sebagai lelaki sejati, rumahnya ditengah jagad. Mendengar jawaban ini, para guru langsung tertawa terbahak, bahkan lebih jauh mengumpat, monyet, busyet, nama yang tidak lumrah, nama yang haram dipakai. Kita berhenti sejenak.

Beberapa waktu lalu, soal nama sempat menjadi perhatian banyak orang, sebut saja ada orang bernama Tuhan, Syaitonirojim, bahkan ada yang “.”. Ini tentu tidak lazim. Sebagian orang langsung buru-buru mengeluarkan vonis, bahkan dengan label dan ukuran agama. Seperti para guru itu memperlakukan nama Gatoloco. Langsung distempel HARAM. Bahkan hanya soal nama, seseorang divonis tidak bakal bisa masuk surga. Seperti ungkapan para guru di bait 16, “Tidak patut, namamu itu sangat-sangat jelek, karena sangat tabunya, bukah hanya makruh tapi sudah najis bahkan haram! Itu nama yang mencelakakan, nama yang membuat orang menjadi durhaka, nama yang tidak patut, sudah disebutkan didalam kitab, apabila menghindari hal-hal yang haram jika meninggal kelak pasti akan naik ke surga, yang tidak menghindari hal-hal yang haram pasti kelak masuk neraka”.

Seolah, hanya mereka yang mempunyai nama yang lazim dianggap baik sajalah yang layak masuk surga, sementara yang tak lazim, bahkan cenderung porno tidak layak. Potret merasa paling beriman karena memiliki nama yang baik, layaknya orang bermasturbasi, ketika menemu orang lain dengan nama yang tidak lazim, atau dianggap tidak syar’ie. Nama-nama yang tidak mengambil dari kitab suci bisa dianggap juga tidak suci, najis dan tak layak disandang sehingga akan menjadi penghambat pemiliknya masuk surga.

Maka, celaka benar mereka yang sudah terlanjur sejak lahir tak diberi nama dari kitab suci. Kadang sebuah sebutan di daerah tertentu sebagai nama yang biasa, tetapi di daerah lain tidak pantas. Apakah kemudian, surga akan menyeleksi nama-nama berdasarkan daerah tertentu? Apakah surga hanya akan menerima nama orang yang berbahasa tertentu?

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s