Ngaji Gatoloco #2: Soal Nasab

Sebelum saya memulai bagian ini, bagi yang berkenan mengikutinya, silakan mendownload naskah Serat Gatoloco serta terjemahannya di blog-blog yang sudah ada, seperti alangalangkumitir atau damar sasangka atau lainnya. Selanjutnya, saya mulai bagian kedua ini.

Bismillahirrahmaanirrahiim
Teguh luput, Gusti Allah ora ketok

Setelah Gatoloco dihardik karena penampilannya, selanjutnya yang dihadirkan sudah melebar ke masalah lain, soal keturunan, nasab. Kalau mau jujur, apakah ketiga guru dan santrinya itu mengenal betul Gatoloco? Oh tentu belum, bahkan soal nama saja, baru ditanyakan kemudian. Berikut ini saya kutip dari bait 9 Pupuh II Dandanggula:

Dudu anak manusa sayêkti, anak Bêlis Setan Brêkasakan, turune Mêmêdi Wewe, Gatholoco duk ngrungu, den wastani yen anak Bêlis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawêtu, ngungkapi gembolanira, kleletipun sajêbug sigra ingambil, den untal babar pisan.

Terjemahan: Dia (gatoloco)- sesungguhnya bukan anak manusia, tetapi anak Iblis Setan Brêkasakan, keturunan Hantu atau Wewe, Gatoloco mendengar akan hal itu, disebut sebagai anak Iblis, sangat-sangat sakit hatinya, akan tetapi didiamkan saja, membuka gembolannya kembali, diambilnya candu sekepal, dimakan sekaligus semuanya.

Bayangkanlah bagaimana sakit hati anda, jika anda dihardik soal keturunan dari siapa anda. Apalagi menghardik sebagai anak iblis, setan, hantu dan sejenisnya. Dihardik sebagai anak bapaknya, katakanlah memang pernah jadi narapidana akibat mencuri, kemudian disebut anak pencuri saja sakit hati, apalagi ini. Fakta bukan, yang jelas ini spekulasi luar biasa. Bahwa orang yang buruk rupa itu mesti anak penjahat, sejahat-jahatnya sama dengan iblis.

Keberagamaan seseorang seringkali dikaitpautkan dengan nasab, keturunan. Tidak sedikit orang yang mabuk gelar religius karena keturunan ini. Ketika dirinya diketahui keturunan orang-orang suci, saleh dan alim, kemudian melihat orang lain dengan sebelah mata. Apakah kemudian, karena keturuanan seperti itu otomatis dia mempunyai kualifikasi seperti leluhurnya yang dibanggakan? Tentu tidak to? Lagi-lagi kembali kepada prestasi masing-masing diri. Bahkan bagi sebagian yang sadar diri, nasab menjadi beban yang luar biasa berat untuk memberi bukti, bahwa dirinya diupayakan tidak terlalu jauh dengan leluhurnya.

Masturbasi melalui nasab bisa saja dilakukan oleh mereka yang lahir dalam keluarga saleh, alim dan suci.Kondisi ini selalu didengungdengungkan dalam benak, menancap di hati dan menghasilkan sebuah orgasme akan kesalehan diri. Ketika dihadapkan kenyataan orang lain, yang nampak buruk, sontak birahinya membuncah, menderu dan selanjutnya dikocok-kocok, untuk mencapai orgasme. Menghina orang lain yang bernasab tidak semulia dirinya, dengan berbagai sebutan dan spekulasi mengaitkan dengan penjahat atau musuh-musuh orang suci, dengan kata lain adalah masturbasi guna mencapai kenikmatan diri sendiri. Begitu nikmat dengan menghardik nasab orang, meninggikan nasab sendiri, padahal nasibnya bisa jadi tidak jauh berbeda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s