Ngaji Gatoloco #1: Soal Penampilan

NgajiGatoloco #1

Bismillahirrahmanirrahiim
Teguh luput, Gusti Allah ora ketok

Serat gatoloco merupakan naskah berbahasa Jawa diperkirakan muncul pada abad ke-19. Gayanya vulgar, dengan kata yang kasar, berbeda dengan banyak karya sastra yang lahir pada era itu. Secara umum serat ini dapat saya sebut sebagai gugatan, kritik atas perilaku beragama masa itu. Pada bait pembuka penulis mengakui bahwa karyanya ini muncul akibat kegelisahan, prihatin yang menjadi-jadi, seperti tertuang dalam naskah:

Prana putêk kapêtêk ngranuhi, wiyoganing batos, raosing tyas karaos kêkêse, têmah bangkit upami nyêlaki, rudah gung prihatin, nalangsa kalangkung.

Apakah kegelisahan ini muncul bisa jadi akibat penulis melihat banyak hal menyimpang dalam praktek beragama. Dengan menulis ini, diharapkan mampu mencari kebenaran yang jelas, jernih dan menentramkan hatinya.

Gatoloco adalah nama tokoh utama dalam naskah ini, meski ada tiga tokoh lain, yaitu Kyai Hasan Besari, Kyai Ahmad Arif dan Abdul Jabar. Pemilihan nama Gatoloco, buat saya sangat menarik. Gato berarti alat kelamin (yang tersembunyi), loco berarti (mengelus, mengocok). Singkatnya gatoloco dapat saya terjemahkan bebas menjadi masturbasi. Saya mengartikan ini untuk membantu memahami naskah serat secara keseluruhan yang merupakan kritik perilaku beragama, yang menurut penulis dianggap seperti orang masturbasi. Ciri penting masturbasi adalah egois, mencari kesenangan sendiri dan tentu tidak memerlukan orang lain untuk mencapai kesenangan.

Orang dalam praktek keberagamaannya bisa mirip bermasturbasi. Bisa jadi melalui penampilan yang sarat dengan tanda-tanda atau pernik-pernik yang menunjukkan kesucian dan kesalehan dalam beragama. Melalui pernak-pernik ini, seseorang mampu mereguk kenikmatan, mampu menggairahkan diri dalam beragama kemudian mencapai tarap orgasmus.

Awal bagian serat gatoloco, kritik atas masturbasi beragama ini adalah melalui penampilan dan nama itu sendiri. Gambaran kesalehan tiga guru pesantren dengan atribut pakaian menjadi pembuka.

Bakda subuh wau tiga Kyai, rujuk tyasnya condhong, Guru tiga ngrasuk busanane, arsa linggar sadaya miranti, duk wanci byar enjing, sarêng angkatipun.

Murid nênêm umiring tut wuri, samya anggêgendhong, kang ginendhong kitab sadayane, gunggung kitab kawan likur iji, ciptaning panggalih, tuwi mitranipun.

Bagaimana ketiga guru tersebut digambarkan sedang ditunggu oleh para santri sehabis subuh. Sementara ada enam santr yang mengawal membawa kitab sebanyak 24 buah, berjalan menuju ke sebuah tempat. Mereka berhenti, beristirahat. Para murid nampak berdzikir penuh khusuk. Namun kemudian didatangi oleh seorang yang buruk rupa.

Penggambaran kondisi ini jelas, antara yang berpenampilan buruk dan berpenampilan soleh. Ia adalah gatoloco yang digambarkan bertubuh pendek, matanya juling, rambut keriting, hidung pesek, dagu tidak lancip, telinga lebar maju, pipi kempot, serta gambaran katuranggan yang jelek. Penggambaran kontras ini dihadirkan di awal, seolah mengajak kepada pembaca untuk bersiap-siap menyaksikan dua bentuk yang berlawanan, dua kutub yang siap beradu. Memang demikian, pada bagian-bagian selanjutnya akan dijumpai perdebatan sengit dua kubu ini.

Gatoloco yang berpenampilan jelek itu kemudian mendekat kepada kumpulan santri dan kyainya. Sambil kebul-kebul merokok, yang baunya sangit, gatoloco tetap mendekat dan berbaur. Melihat kelakuan gatoloco seperti ini, murid-murid banyak yang terganggu. Para guru juga demikian, serta mengeluarkan reaksinya. Mereka mengucap istighfar, taawud dan tahlil. Mereka merasa aneh dan janggal menemui manusia semacam itu. Segera saja mereka langsung memberi cap kepada gatoloco:

Janma ingkang rupane kayeki, sarwi noleh ngandika mring sabat, Padha tingalana kuwe, manusa kurang wuruk, datan wêruh sakehing Nabi, neng dunya wus cilaka, iku durung besuk, siniksa aneng akherat, rikêl sewu siksane neng dunya kuwi.

Manusia yang berwujud seperti ini, sembari menoleh berkatalah kepada para sahabat (para santri), Lihatlah itu, manusia kurang pengajaran, tidak mengenal Para Nabi, didunia sudah celaka, belum kelak, disiksa di akherat, berlipat seribu siksaannya lebih dari siksaan didunianya kini.

Begitu mudahnyakah manusia memvonis orang lain, hanya karena wujudnya? Penampilannya? Perilakunya yang belum benar-benar terbukti mengancam kehidupan orang lain? Mungkin dengan mengeluarkan vonis itu, kemudian puas? Bahkan dengan membiasakannya bisa mencapai orgasme, yang semakin mengukuhkan kesalehan?

Mengapa tidak berkenalan dulu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s