Islam Nusantara, Apa Itu?

Akhir-akhir ini pembicaraan dan penggunaan istilah “Islam Nusantara” mulai ramai digunakan. Bahkan mulai ramai diperebutkan. Tulisan ini mencoba mengingatkan kembali, makna Islam Nusantara. Sebelumnya, perlu dijelaskan mengenai kata Nuswantara/Nusantara. Banyak disebut, bahwa Nusantara berarti sebuah kesatuan wilayah terdiri dari pulau-pulau. Ada yang menyebutnya, sebuah wilayah yang berada di antara dua samudra, dua benua.

Merujuk istilah Nusantara yang digunakan oleh Gajah Mada,”Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”. Salah satu tafsir atas sumpah itu adalah, kuatnya keinginan Gajah Mada untuk melindungi dan membendung pengaruh kekuatan kerajaan di Asia dan lainnya atas wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Majapahit. Intinya, Gajah Mada menyadari adanya kekuatan asing yang akan menganeksasi wilayah Nusantara, maka Gajah Mada berkewajiban melindunginya, meski dirinya harus menderita.

Dengan demikian, Gajah Mada menyadari nusantara adalah sebuah wilayah yang terdiri dari banyak pulau, etnis, bahasa, peradaban dan sebagainya. Ini akan diperkuat akan fakta sejarah, bahwa Majapahit juga melindungi warga yang beranekarupa etnis dan golongan. Termasuk di dalamnya orang Islam. Nusantara bisa berarti keragaman, toleransi, persatuan, harmoni dalam sebuah wilayah tertentu. Pemahaman ini akan semakin kuat, jika kemudian merujuk pada perkembangan Islam pada masa itu. Kedatangan Islam diterima seperti menerima kelompok agama lainnya.
Kehidupan beragam itu diperkuat melalui semboyan “Bhinneka Tunggal Ika, tan hana Dharma mangrwa”. Sebelum bait itu disebutkan, sumber ajaran agama bisa berbeda. Bisa bersumber dari agama Siwa atau Budha. Namun kebaikan (dalam hidup bermasyarakat) tetaplah satu. Meski berbeda tetaplah satu, karena Dharma (kebaikan/amal) tak bisa dibeda-bedakan. Ini kemudian, bisa jadi disuarakan oleh Gus Dur dengan, “ketika anda berbuat baik, orang tidak akan bertanya apa agamamu”. Demikianlah makna nusantara dulu yang tumbuh dan hidup di nusantara.

Islam yang dibawa oleh paRa ulama, seperti walisanga, adalah Islam yang sangat menghormati perbedaan. Sebut saja sebagai contoh dalam Kitab Primbon Sunan Bonang (Het Boek Van Bonang) dalam pembukanya, menyebut sumber penulisan kitab berasal dari “Ihya’ Ulumuddin”. Dalam pupuh-pupuh selanjutnya menerangkan tentang tasawuf, suluk, sifat Allah yang bersumber dari pendapat Imam Ghazali. Dalam Pupuh III disebutkan,”Mangka anabda Shaich al Bari : e-Mitraningsun ! pamanggihingsun ta nora mongkono kaya Abdul Wahid iku. Karana satuhune pangucape Abdul Wahid iku kupur ing patang madh’hab”.

(“Maka bersabda Shaich al Bari : Hai, kawan! Pendapatku tidak seperti Abdul Wahid itu. Karena sesungguhnya ucapan Abdul Wahid itu kufur menurut empat madzhab”)

Penyebutan empat madzhab ini jelas mengindikasikan adanya keragaman madzhab yang dianut oleh Sunan Bonang khususnya dan walisanga umumnya. Artinya keragaman paham seperti ini sudah menjadi bagian dari tradisi Islam di nusantara waktu itu.

Tradisi keragaman dan toleransi kemudian tetap dipertahankan. Bahkan diperjuangkan. Ini sangat menonjol pada perjuangan Komite Hijaz (kemudian menjadi Nahdlatul Ulama) menyuarakan tradisi bermadzhab dalam Islam kepada Raja Arab Saudi waktu itu yang nampak memaksakan paham tertentu. Lebih jauh, KH. Hasyim Asy’ari kemudian merumuskan Ahlussunnah sebagai pengikut madzhab (salah satu madzhab). Pemikiran ini masih bersambung dan sejalan dengan tradisi pada masa awal Islam masuk ke nusantara. Terbukti kemudian NU mengukuhkan adanya persaudaraan seiman, sesama manusia dan sesama anak bangsa. KH Hasyim Asy’ari, dan para ulama lainnya melalui NU berjuang sekuat tenaga, tetap mempertahankan keragaman, bukan pemaksanaan pada satu aliran tertentu, serta penghormatan kepada kelompok lainnya dengan penuh martabat.

Paham-paham asing yang mau masuk ke nusantara dan memaksa menjadi hegemoni, menjadi sangat bertentangan dengan spirit keagamaan yang sudah lama tertanam di bumi nusantara. Spirit penolakan pada kekuasaan asing seperti yang dilakukan oleh Gajah Mada masih sejalan dengan penolakan terhadap pemaksaan ideologi paham keagamaan tertentu yang datangnya dari belahan dunia lainnya. Apalagi, ideologi itu mengajarkan pada disharmoni, konflik dan saling menyerang.

Itulah runutan Islam Nusantara yang sudah sejak lama dibangun. Nusantara yang menjadi wadah bagi Islam menjadi tumbuh dan berkembang subur. Menebar aroma kasih, damai. Menjalarkan persahabatan dan persatuan dalam membangun (berdharma) bagi tanah air. Nusantara menjadi wadah bagi kebaikan dan dharma bhakti manusia, bukan menjadi ladang permusuhan dan pembinasaan.

Itulah Islam Nusantara.

Surabaya, 6 April 2015.
Oleh Sururi Arumbani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s