Membina Budaya, Membangun Peradaban

Budaya, sering dipahami dalam bentuk fisiknya yang terlalu kecil. Ketika pemerintah mengurusi festival film sudah disebut sebagai upaya membina budaya. Padahal, jika mau jujur, masih jauh dari kata tepat. Demikian pula perlakukan-perlakuan terhadap bentuk fisik sempit lainnya, seperti wayang, musik, patung dan lainnya.

Budaya, gampangnya adalah budi dan daya. Polah dan kemampuan. Aktivitas manusia bisa disebut budi. Sedangkan kemampuan beraktivitas sampai pada batas tertentu menunjukkan kemampuan manusia. Dalam pengertian ini, budaya memiliki puncak-puncaknya. Itulah peradaban, dimana aktivitas dan kemampuan sampai pada titik tertentu yang mewujudkan nilai adab, etika dan estetika.

Kesenian yang hanya berujung pada rusaknya mental atau degradasi moral sebenarnya bukan budaya yang bisa membangun peradaban. Itu hanya menunjukkan budaya saja. Dus, budaya itu bisa saja berupa budaya yang tidak beradab dan beradab.

Titik tolah pemahaman budaya dan perabadan secara demikian akan membimbing kita untuk mencari-cari budi dan daya yang bisa membimbing manusia dalam membentuk akhlakul karimah. Di sinilah relevansi segala bentuk jenis budaya yang ada kemudian bersesuaian dengan visi agama Islam.

Para wali (songo) dahulu, memahami persoalan kebudayaan tidak dilepas dari peradaban. Wayang bukan sekedar hiburan atau cerita pengantar tidur bagi anak-anak atau orang dewasa waktu itu. Tembang mocopat, syiiran, seni ukir dan sebagainya pada ujungnya adalah membentuk Etika Islam.

Anda kemudian, saat ini masih bisa melihat bangunan peradaban itu. Tradisi penghormatan kepada leluhur, merupakan bentuk budaya yang membangun etika dasar bagi generasi muda (anak-anak) kepada orang tua. Tembang-tembang yang begitu dihayati masyarakat dan bertahan lama, ratusan tahun, dengan segala variasi dan perubahannya. Itu semua menunjukkan bahwa budaya bukan untuk budaya, tetapi untuk adab manusia.

Akhir-akhir ini, berbagai jenis wujud budaya telah diabdikan bagi industri pemuas konsumsi manusia. Manusia bisa bahagia dan tertawa darinya. Tetapi jenis adab macam apakah yang akan diukir melalui budaya semacam ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s