Tradisi Mudik

Mudik atau pulang kampung itu adalah sebuah tradisi. Sekali lagi tradisi atau kebiasaan saja. Persoalannya kemudian itu dinilai sebagai amal ibadah atau foya-foya saja, itu soal laen. Dan saya tidak akan membahas dan mempersoalkan itu. Sekali lagi, bukan wilayah saya untuk menilainya apalagi menghukuminya, sebab saya bukan ahli hukum atau juru nilai.

Pulang kampung akan menjadi sebuah aktivitas biasa saja atau individual, jika hanya dilakukan oleh para individu, tanpa melibatkan sistem, nilai, norma dan adat sosial. Dalam pengertian ini, anda atau siapa saja bisa mudik kapan saja, tanpa harus menunggu momen sosial. Mudik hanya terjadi pada mereka yang bermigrasi, perantau. Bagaimana bisa dikatakan mudik, jika ia menetap atau berdiam di kampung halamannya.

Dalam kerangka ini, mudik dapat terjadi di berbagai kelompok masyarakat di berbagai belahan dunia. Di Amerika saja bisa terjadi kok aktivitas mudik, mungkin saat perayaan thank giving atau natal. Di China, Bangladesh, Malaysia, Nigeria dan sebagainya. Memang biasanya, mudik itu dikaitkan dengan momentum hari raya sebuah masyarakat, apakah hari raya keagamaan ataupun budaya. Mudah dipahami dengan demikian, karena hari raya akan dihormati oleh negara. Kemudian diberikan hak libur yang “cukup” untuk merayakannya. Kesempatan ini lalu digunakan untuk menengok kembali pada sanak keluarga dan orang tua di kampung asal.

Dalam konteks sosial demikian, mudik telah menjadi bagian dari aktivitas negara, masyarakat, keagamaan dan kebudayaan. Kita jadi lebih bisa memahami bahwa mudik benar-benar sebuah tradisi, karena adanya libur yang diberikan bagi para pekerja imigran, kebutuhan menengok keluarga, menghabiskan waktu libur dan tentu ada nilai-nilai sosial yang hendak tetap dijaga.

Jika demikian, maka salah satu cara menghilangkan tradisi mudik adalah melalui tradisi juga. Ciptakan tradisi baru yang lebih menjanjikan ketimbang mudik dan itu harus bisa diterima secara massive, misalnya berikan bonus besar-besaran dan adanya aturan keras bagi para pekerja yang mudik. Penjarakan bila perlu mereka yang mudik. Tapi siapkah dengan segala resiko sosial politik akibat itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s