Akar Illuminati dalam Mitologi

Tradisi gnostik, dimana mendasarkan pada aktualitas obyektif yang terukur mengarahkan kepada sebuah tradisi ilmu pengetahuan. Itu kemudian mengarahkan kepada mengutamakan peran akal ketimbang hati, mengutamakan ilmu ketimbang wahyu. Ilmu pengetahuan adalah sumber pencerahan bagi peradaban manusia, sedangkan agama justru dianggap menjerumuskan pada kebutaan fanatis dan gelap.

Inilah yang kemarin saya sebut dalam SERAT MAHAPURWA, bahwa Sang Hyang Adama menyebut Sang Hyang Nurcahya kelak akan menjauhi agama, tidak seperti saudaranya Sang Hyang Nasa (Anwas) yang kelak menurunkan para nabi dan rasul sebagai pembawa ajaran agama.

Nurcahya, adalah cahayanya cahaya. Yang lahir dalam keadaan cahaya, kemudian berguru pada azazil (nar). Sikap pertama ditunjukkan oleh Sang Hyang Nurcahya melihat kematian kakeknya Sang Hyang Adama adalah “mencari ilmu” agar tidak terkena mati. Tentu ini akan berbeda sikap dari para penganut agama, yang menerima sebagai takdir dari Tuhan, mencari hikmah demi perbaikan diri. Perjalanan kemudian berlanjut mengelana mencari ilmu di seluruh penjuru bumi, ilmu terawang (melalui Uzza), ilmu kesaktian (Azazil), ilmu menghidupkan yang mati dan sebagainya. Maka pada puncaknya dia kemudian meneguhkan melalui ilmu/cahaya/dirinya dia mampu mewujudkan banyak impian, bahkan membangun surga kahyangan. Ujungnya dia menetapkan dirinya sebagai Sang Hyang Dewata.

Berturut-turu dia melahirkan Nurrasa, melalui penciptaan cupumanik dan air tirta kamandanu, kemudian melahirkan Hyang Wenang. Ketiga sosok ini dalam kisah pewayangan adanya di alam awang-awung, alam kekosongan, alam awal. Tiga sosok ini bisa dikorelasikan sebagai Akal (Nurcahya), Nurrasa (benih kehidupan) Nafus/kehendak (Wenang), ini juga bisa dikorelasikan dengan Baitul Makmur (Nur cahya), Baitul Muqadas (Nur Rasa) dan Baitul Haram (Wenang). Jadi ada alam ide, kehendak dan kuasa, atau cipta, rasa dan karsa. Inilah kemudian menyatu dalam SangHyang Tunggal.

Eksistensi mereka kemudian semakin jelas dan maujud (emanasi) dalam bentuk 3 putranya, Manikmaya (Guru/Akal), Semar (rasa/hati) dan Antaboga dimana pemujaan utama pada akal (Guru) menjadi lebih utama. Wajar kemudian, keturunan Nur Cahya memiliki peradaban ilmu pengetahuan yang demikian maju, bahkan bisa menandingi keturunan Anwas. Di sinilah bisa dikhayalkan lagi, bahwa kehancuran Atlantis yang berbasis ilmu pengetahuan, jendela dunia (mata sapi) yang dibangun oleh para jin dan sekutunya demikian maju dan kemudian dihancurkan, sehingga kekuatan Agama tetap berkuasa.

Inilah jalur gnostik dalam mitologi wayang. Dan akan semakin jelas, ketika ilmu itu sangat diagung, dengan simbol Manikmaya/Guru yang didewa-dewakan, muncul spesialisasi. Ini seperti pendapat mengenai globalisasi, dimana semakin maju ilmu, akan semakin terspesialisasi. Maka penyembahan kemudian tidak hanya pada Guru, tetapi kepada Bayu, Surya, Agni dan sebagainya dengan spesifikasi penguasaan masing-masing.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s