Petruk Takon Bapakne

Masyarakat kita saat ini semakin bingung mencari tokoh-tokoh teladan. Sudah banyak berjajar tokoh-tokoh politik terjerumus dalam kerangkeng korupsi. Tak luput, para penegak hukumpun terlibat baku serang, baku hantam. Padahal mereka selama ini menjadi sosok pengayom, layaknya bapak bagi anak-anaknya. Rakyat miskin yang kesulitan mengobatkan keluarganya berharap kepada pemerintah guna mendapat pelayanan yang baik. Namun toh juga menyisakan kekecewaan bagi masyarakat.

Lantas siapakah sebenarnya bapak bagi rakyat ini? Gambaran masyarakat  ini seperti kisah wayang “Petruk Takon Bapakne”, ya salah satu tokoh Punakawan yang mencari siapa sejatinya bapaknya. Ki Lurah Semar Badranaya yang selama ini sudah dianggap sebagai bapaknya, ternyata hanyalah seorang pengasuh semata. Semar tak ada bedanya dengan Petruk, atau saudara lainnya, Gareng dan Bagong. Semuanya sama-sama rakyat jelata, meski anak lurah. Mereka hanya tukang mengasuh, menghibur dan tempat olok-olokan bagi para ksatria.

Suatu sore yang teduh, Petruk memberanikan diri bertanya kepada Semar, “Ramane… jane sapa bapane nyong?” (logat Banyumasan). Jawab semar dengan cepat, “Lah ya mesti inyong lah, ngger…ngger….sapa maning?”. Petruk tidak percaya, “inyong ora percaya, Bapane nglombo…. aku kudune anake wong gantheng, ora kaya rika sing gendhut…”.

Semar terkekeh mendengar protes Petruk. “Begini lho..truk. Apa kamu benar-benar mau tahu siapa bapakmu?, apa kamu siap mengetahui bapakmu sebenarnya?”. Sahut Petruk,”ya jelas donk, sebab aku yakin bapakku gantheng, baik hati dan mengasihi anaknya..”.

“Ya sudah, kalau kamu siap mengetahuinya,” begitu kata Semar. “Truk, bapakmu yang sebenarnya adalah seorang Gendruwo, dari bangsa Jin yang menakutkan…”. Petruk tertegun….”benarkah?…. oh menakutkan. Saya tidak mungkin anak gendruwo”. Petruk menjadi takut sendiri. Dia menyesal mengetahui jika bapaknya adalah sosok yang menakutkan.

Demikianlah rakyat jelata, sering ketakutan ketika mengetahui bagaimana bapaknya yang sesungguhnya, bagaimana para aparat pemerintah, aparat negara yang saat ini sudah seperti gendruwo, seperti raksasa yang menakut-nakuti rakyatnya, membuat rakyat putus asa, dan menjauh dari rasa ayemnya.

Namun beruntung, Ki Dhalang membisiki Petruk…. “truk…bapakmu itu seorang begawan yang luas ilmunya dan ibumu adalah seorang dewi.”….untunglah ada bisikan ini, sehingga Petruk tidak jadi pingsan dan sedikit kembali bergairah melanjutkan kehidupannya.

 

NB: * cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan lainnya bukan sebuah kesengajaan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s