KEPEMIMPINAN ALA JAWA : RATU ADIL

Soal kepemimpinan, orang Jawa cenderung merujuk pada konsep RATU ADIL. Menurut Saya, ia adalah sosok, identitas, pribadi. Mungkin orang lain berpendapat itu adalah sistem. Sebab bagi orang Jawa, apakah orang itu dipilih, ditunjuk atau mengangkat dirinya sendiri bukanlah esensi dari RATU ADIL.

Terdapat dua konsep utama, yaitu RATU dan ADIL. RATU adalah penguasa entah seberapa luas cakupan wilayahnya, bisa sedikit, bisa sangat luas sampai seluruh jagad raya. Sementara kata kunci  kedua adalah ADIL. Bahwa keadilan adalah hal mutlak dimiliki oleh seorang RATU. Jika tak ada keadilan dalam kepemimpinannya, maka penguasa tersebut adalah dzalim. Konsep ADIL sendiri, bisa dikatakan konsep yang universal, namun dalam pandangan kelompok tertentu mempunyai definisi yang bisa jadi ada beberapa variasi.

Kembali kepada konsep RATU ADIL dalam budaya Jawa, saya kutip dari Serat Syeh Subakir (Pupuh III Pangkur) mengenai RATU ADIL, digambarkan :

“Ratu iku luwih mlarat, datan mawi sangu amung sadremi, mung semende mring Hyang Agung, tan ana janma wikan, pan kasandang kasampar-sandung tan weruh, pudak sinumpet punika, timbule kang tunjung putih”

Sosok RATU yang adil adalah adil terhadap dirinya sendiri, dimana dia sadar keterbatasan kebutuhan dirinya sendiri. Tidak berlebihan, “mawi sangu amung sadremi”, berbekal untuk kebutuhannya sekedar memang kebutuhan. Dengan demikian tidak ada sikap berlebihan, apalagi korup. Mengapa bisa demikian? Karena ia selalu bersandar kepada Gusti Allah, kepada Yang Mahakuasa, Mahakaya yang mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Tak ada niat mencari keuntungan pribadi, semua dikerahkan kepada pengabdian melalui sikap adil. Pun ia tidak suka pamer atas jasa-jasanya, apalagi atas siapa dirinya, suku, asal, ataupun keturunan. Bahkan “tan ana janma wikan”, tak ada orang yang tahu tentang dirinya, yang dikenal hanyalah sikap adilnya. Orang-orang bahkan tidak mengetahui bagaimana jerih payahnya mereka, “pan kesandang kesampar-sandung tan weruh”. Dalam konsep lain “sepi ing pamrih rame ing gawe”, banyak berbuat dan susah payah tanpa pamrih. Keberadaanya ibarat “pudhak sinumpet puniko”, seperti daun pandang yang wangi tapi tersembunyi, harum namanya tanpa diketahui pohon pandannnya. Jika sikap-sikap seperti itu bisa dilakukan, maka “timbule kang tunjung putih”, munculnya bunga yang harum nan indah.

Sepak terjang RATU ADIL membuat hati rakyat kecil tentram, bahkan para musuh juga keder melawannya. Meski banyak yang menyerang, toh akhirnya mereka sirna, tak berdaya, “Mungsuh ngarep ekeh sirna, ingkang pada wani samya mati, tumpes tapis sirna larut”, karena kepasrahan kepada Gusti Allah yang demikian kuta, maka bala tentaranya adalah kekuatan Sirrullah. Bahkan alampun ikut mendukungnya, “mung kalabang kalajengking gamanipun”.

Bagaimana bisa seseorang bisa menjadi ADIL? Itulah sebenarnya yang diharapkan kepada para pemimpin untuk mencapainya. Kekuatan spiritual harus digembleng dan diasah. Dalam serat tersebut : “anjurungi marang Sang Ratu Adil, ana dene kutanipun, alas bumi Ketangga, pan rineka kedatonira Sang Prabu, Juluk Sultan Herucokro”. Tempat keratonnya adalah Alas Ketangga, dimana ini merupakan simbol penguasaan batiniyah sang pemimpin. Alas diartikan sebagai hutan, asal, tempat yang ramai, seperti batin manusia penuh dengan nafsu, niat, cita-cita dan sebagainya. Kekuatan dan potensi batin ini benar-benar nyata “Katon”, namun juga halus “Onggo”. Jika penguasaan spiritualitas ini mumpuni, maka dia akan bisa menguasai Alas Ketonggo sebagai keratonnya. Kemudian dia juga bergelar Herucakra, dimana penguasaan akal pikiran (Heru=mustika, kepala, pikiran). Dus, sosok RATU ADIL tentu memiliki kekuatan spiritual, intelejensia mumpuni. Dengan modal itulah dia akan bisa berlaku adil kepada rakyat, bahkan mampu orang lain bertobat dan bersujud “botoh keh pada kabutuh, awit adil Sang Nata, akeh ngungsi mring masjid pada asujud, eling marang kabecikan, pada dadi santri mursid”. Orang yang kayapun butuh, apalagi orang kecil. Semua ingat kepada kebaikan, dan bersujud, berduyun-duyun ke masjid, dan menjadi santri mursid.

Sungguh, konsep RATU ADIL adalah konsep kepemimpinan yang demikian berat dipenuhi. Namun, apalagi yang bisa diandalkan oleh pemimpin jika sudah tak ada keadilan? Apakah dia orang adalah berlatar belakang ulama, profesor, tentara dan sebagainya. Semuanya sia-sia tanpa keadilan yang menyejahterakan rakyat, tanpa keadilan yang menentramkan rakyat, tanpa keadilan yang mengajak kebaikan kepada masyarakat.

 

Wallahu ‘alamu bishshowab

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s