Sunan Kalijaga : dari Brandalan menjadi Begawan

Raden Sahid atau kelak lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga merupakan sosok yang sangat masyhur dan dikenal di tanah Jawa. Sampai detik ini kharismanya tidak pudar. Mengapa bisa demikian? Bagi masyarakat Jawa, ada pepatah, “wong mati ninggali jeneng”. Orang meninggal mewariskan nama. Nama dikenang, sebab laku amal perbuatannya kepada manusia lain. Sehingga bagi mereka yang merasa tersentuh laku amal tersebut, akan mengenangnya sebagai bentuk rasa terima kasih dan syukurnya.

Menjadi Brandal Lokajaya : Pembebasan Duniawi

Raden Sahid adalah putra bupati, pewaris “tahta” pemerintahan kabupaten Tuban. Secara genealogis dan tradisi, dialah kelak yang akan mewarisi itu. Sungguh Allah sedari awal sudah membuat skenario buat Raden Sahid. Dalam usia muda, yang memang digadang menjadi pewaris pemerintahan, telah dibukakan kesadarannya untuk mencari bekal yang hakiki dalam memimpin masyarakat. Kondisi masyarakat yang kebanyakan hidup dalam kekurangan menyadarkan Raden Sahid, bahwa ada sesuatu yang salam dalam sistem pemerintahan. Apa yang akan diperbuat? Jika saat itu harus langsung bertindak kepada rakyat, maka tak pantas seorang putra kepala daerah melangkahi sistem yang sudah ada. Dengan begitu dia akan berhadapan dengan ayahnya sendiri, Raden Wilwatikta. Sungguh sebuah pilihan yang sulit. Maka, pilihan yang paling bisa dijalankan adalah keluar dari sistem, dan bertindak bukan atas nama sistem. Ya, Raden Sahid menjalani dirinya sebagai seorang Brandalan (kamus : orang yang tidak patuh pada aturan/sistem), yaitu Brandal Lokajaya. Dia mengambil harta orang-orang kaya untuk dibagikan kepada fakir miskin. Dalam pandangannya, sistem yang berjalan tidak memungkinkan terjadinya pengambilan hak tersebut secara legal dan terdistribusi dengan rapi dan adil. Pengambilan dan pendistribusian model “brandal lokajaya” telah melawan sistem yang ada, tanpa melalui pemerintah yang sah.

Kesejahteraan merupakan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup orang banyak. Itu adalah model kesejahteraan yang palng sederhana dan dasar.  Harta, emas dari orang-orang kaya sebagai simbol kesejahteraan dipaksa untuk terdistribusikan. Maka, nama brandal Lokajaya adalah nama yang tepat untuk menggambarkan itu. Namun, usaha seperti itu ternyata tidak lantas merubah masyarakat dengan baik. Ya sekedar memberi rasa kenyang masyarakat miskin, tetapi tetap saja tidak merubah perilaku mereka untuk terbebas dari kemiskinan dan problem kehidupan lainnya. Di sisi lain, perlawanan terhadap sistem, memaksanya harus menghadapi pemerintahan yang kuat. Meski anak sendiri, ketika melawan sistem yang sudah tertata rapi, maka dia adalah tetap pemberontak. Dus layak untuk diberi hukuman seperti pemberontak lain. Maka diusirlah Raden Sahid dari kadipaten dan tidak layak menjadi pewaris.

Bertemu Sunan Bonang : Pencerahan

Jika, dalam peran sebagai Brandal Lokajaya, lebih bersifat “memberi ikan” kepada masyarakat, maka Raden Sahid sudah mencapai titik klimaks, dimana upaya pengentasan kemiskinan dengan model seperti itu tidak efektif dan cenderung distruktiv bagi sistem sosial itu sendiri. Dalam kondisi seperti itu, maka Allah menakdirkan Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonang. Pertemuan pertama, Raden Sahid digoda dengan pohon emasnya. Bahwa jika hanya sekedar membagi kekayaan, itu urusan gampang, asal saja seseorang itu kaya harta. Tapi apakah itu semua akan menyelesaikan persoalan? Pengalaman sebagai Brandal Lokajaya telah mengajarkan bahwa upaya-upaya model seperti tidak akan berhasil dalam jangka panjang.

Disinilah, peran Sunan Bonang dalam membantu Raden Sahid menemukan apa yang seharusnya diperbuat untuk membantu masyarakat. Sunan Bonang mengenalkan kepada ajaran-ajaran keluhuran, ajaran Islam, keteledanan Rasulullah SAW dan para nabi-nabi terdahulu. Waktu yang dilalui Raden Sahid kemudian adalah perjalanan dalam berguru, mencari kesejatian hidup dan kehidupan. Mengapa itu dilakukan? Untuk membantu manusia lain, maka seseorang harus mampu membantu dirinya sendiri. Untuk mencerahkan orang lain, maka dia harus tercerahkan. Untuk mensejahterakan orang lain, maka dia juga harus sejahtera.

Kisah ini telah menegaskan apa yang sudah didapat Raden Sahid pada awalnya, yaitu kesadaran untuk membantu masyarakatnya. Konsistensi untuk mencari bekal dalam memperjuangkan rakyatnya terus berlanjut. Pencarian ilmu Raden Sahd dan kemudian mendapat Gelar Sunan Kalijaga adalah proses pematangan atas kesadaran yang sudah didapat di usia mudanya.

Menjadi Begawan : Menjadikan Lainnya Lebih Berguna

Setelah proses perjalanan panjang dalam menempuh Ilmu, baik melalui para wali (ulama-ulama) lain, bertemu nabi khidzir, dan sebagainya telah memberikan bekal sangat cukup bagi Sunan Kalijaga untuk mempejuangkan apa yang dahulu diperjuangkannya, yaitu membantu masyarakat dalam hidup dan kehidupannya. Maka Raden Sahid sekarang sudah menjadi begawan, orang yang mumpuni dalam keilmuwan, lelaku, dan keteladanan. Pilihan untuk membantu masyarakat sudah bukan urusan harta lagi, tetapi lebih pada pencerahan kepada masyarakat. Meski, membantu dalam bidang ekonomi tetap dilakukan. Dalam tahap ini, Sunan Kalijaga sudah menjalankan prinsip “menjadikan dirinya dan yang lain bermanfaat”. Penerapan prinsip tersebut tidak sebatas pada manusia saja.

Wayang kulit yang semula hanya hiburan dan tontonan, dialihfungsikan menjadi sumber inspirasi tuntunan dan ajaran, dijadikan media dakwah ajaran Islam. Tembang mocopat yang awalnya sebagai tembang, dijadikan lebih berbobot dan sarat makna dakwah Islam. Tembang-tembang dolanan sebagai hiburan dijadikan wahana menyampaikan pesan keluhuran dan Islam. Dan masih banyak lagi.

Demikian pula, para penjahat takluk dalam adu kekuatan, sehingga tunduk pada ajaran Islam. Para pejabat yang lupa rakyat, disadarkan dengan berbagai cara dan metode agar lebih memperhatikan kesejahteraanya. Ajaran-ajaran yang sebelumnya menyesatkan, dialihkan untuk kembali kepada kebenaran.

Sungguh tidak gampang melakukan itu semua. Sungguh besar pula jasa yang sudah ditanamkan. Sehingga layaklah, beliau dikenang sepanjang masa, karena apa yang sudah diperbuat dan ditanamkan kepada masyarakatnya. Jelas sekali bahwa ada konsistensi dalam diri Sunan Kalijaga, baik tatkala masih muda, kemudian menjadi Brandal Lokajaya, dan akhirnya menjadi Sunan Kalijaga, Guru Tanah Jawa, yaitu konsistensi pengabdian kepada masyarakatnya.

Bagaimana dengan anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s