Belajar Kitab Gundul

Dasar si Murid sudah tidak suka dengan kebiasaan si Cantrik ngaji kitab gundul, maka terjadilah debat kusir berikut :

 

Murid : “trik, mbok ya jangan ngaji dengan kitab gundul. Itu kan karangan manusia. Lebih baik ngaji Qur’an dan Hadits”

Cantrik : “Iya seh, memang itu sangat baik kok. Tapi kenapa mesti tidak boleh ngaji kitab gundul?”

 

Murid : “yang sunnah itu yang tidak gundul akhi. Ada jenggotnya, apalagi panjang…”

Cantrik : (ketebulan bawa kitab Al Ibriz) “ooh…kayak yang ini ya?……”

Murid : “Nah…benar-benar seperti ini. Dibawah tulisan ada jenggotnya. Ada harokat sehingga mudah dibaca…ini yang sunnah akhy”

Cantrik : “kalau yang ini malah lebih panjang (kebetulan si Cantrik habis ngaji Fathul Muin, dengan tulisan tangan untuk memberi makna). Bagaimana akhy?”

Murid : “wah ini malah lebih bagus lagi…..lebih panjang dan lebat lagi jenggotnya…”

Cantrik : “bisa baca juga?”

Murid : “Tidak akhy…….”

Cantrik : “Pantes…memang itu tulisanku….menghina apa? Kalau tulisanku jelek?….”

Murid : “Oh bukan begitu..akhy….kalau itu tulisan kamu, berarti kamu malah bid’ah, menambah-nambahi….”

Cantrik :”gimana to, katanya gundul itu tidak boleh, bisa menyesatkan, ada makna gandulnya kayak jenggota, baik, sunnah. Ini malah jenggot lebat..dibilang bid’ah….sebenarnya kamu ngerti ndak kitab gundul?”…..

Murid : “……@#???^&##

Cantrik : “dasar…gundulmu…ngono….”

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s