MENGENALI DIRI KEMBALI : PINTU KELUAR YANG SATU

Tak akan pernah habis menggali pelajaran dari diri sendiri. Manusia begitu sempurna diciptakan sebagai pemberi pelajaran dan nasehat. Menjadi cermin, menjadi inspirasi bagi mereka yang suka akan hikmah dan berani mengenal lebih dalam akan dirinya sendiri.

 

Berbekal indera, manusia diharapkan menjadi makhluk yang memburu ilmu pengetahuan, melatih kecerdasan dan menguasainya. Melalui mata, mulut, telinga, hidung, kulit, tangan, kaki dan sebagainya manusia memperoleh ilmu yang sangat beragam dan banyak. Manusia seakan-akan menjadi sebuah perpustakaan yang berjalan. Setiap orang mempunyai kapasitas dan daya tampung. Setiap manusia mempunyai “hardsic”nya untuk menampung dan mengolah semua ilmu pengetahuan yang diserap dan dikumpulkan.

 

Itu semua tidak bisa ditampilkan atau disajikan begitu saja. Karena saking banyaknya, ataupun karena kepentingan untuk mengolahnya dan menyajikannya. Lagi-lagi LISAN yang menjadi andalan untuk menyajikannya. Lisan dalam bentuk kalimat ataupun tulisan. Selalu saja banyak pintu untuk memasukkan ke dalam diri manusia, tetapi hanya ada sedikit pintu untuk mengeluarkannya. Ini mengajarkan kita untuk sangat berhati-hati dalam menyajikan dan menyampaikan semua ilmu yang kita miliki dan kuasai. Mengajari kita untuk selektif dalam memilah mana yang harus dikeluarkan dan mana yang harus disimpan di tahan.

 

Pelajaran lainnya adalah ilmu yang menjadi milik kita selayaknya dan seharusnya memang untuk kita, sedangkan yang sedikit dan selektif untuk orang lain. Kita harus mampu menjadikan diri kita ini sebagai ladang mempraktekkan dari semua pengetahuan yang sudah kita miliki, bukan sebaliknya memaksa orang lain untuk mempraktekkan dari ilmu kita. Pepatah Jawa mengingatkan “Ojo Jarkoni, iso ngajar ora iso nglakoni” (pandai mengajar/menyampaikan ilmu, tapi tidak bisa mengamalkan).

 

Begitu indah Allah menasehati kita, melalui ciptaannya, melalui apa yang sudah kita bawa sejak lahir. Apa yang sudah kita pakai sejak hidup. Masihkan perlu nasehat yang lebih keras agar kita sadar dan mengenal diri???

Kelihatan gampang untuk diucapkan, tapi susah dipraktekkan bukan???

 

Wallahu ‘alamu bisshowab

 

*) Sumber Kitab Teles : Bab Diri, Pasal Pelajaran

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s