SABAR (Bagian I)

Imam Nafri berkata : “Pintu terdekat kepadaNYA adalah sabar”. Dalam sabda Kanjeng Nabi Muhammad disebutkan : “Sabar itu sebagian(separo) dari Iman”. Begitu pentingnya sikap sabar dalam hidup sehingga ditempatkan dalam posisi yang strategis dalam kehidupan manusia, baik secara umum dan khusus keagamaan. Orang seringkali berkata : “Sabar itu ada batasnya…” Seolah kalimat tersebut sungguh pas untuk menggambarkan bahwa seseorang sudah berusaha bersabar, tetapi bagaimanapun tidak bisa terus menerus bersabar, jadi sabar itu ada batasnya.

Seolah kalimat tersebut mencerminkan sebuah kebenaran, tetapi hanya sebuah apologi semata, membela diri untuk menutup kelemahannya. Kalimat yang seolah-seolah menunjukkan kearifan itu sebenarnya adalah bisikan syaitan, tipu daya syaitan. Baiklah kita kupas : benarkan sabar ada batasnya?. bagaimana mungkin sebuah kebaikan dan anjuran agama yang diletakkan pada posisi sangat penting dibatasi? Bukankah yang sebenarnya adalah : keterbatasan manusia dalam menjalankan sabar? bukan sabar itu sendiri yang terbatas. Seperti sholat, sebagai kebaikan, apakah dibatasi? memang diatur mana yang boleh dan tidak, mana waktu sholat A dan mana sholat B. Itu tidak membatasi, hanya mengatur/regulasi. Sholat sunnah ada sholat mutlaq, yang bebas aturannya. Suatu ketika ada sahabat Nabi melaksanakan sholat sunnah sampai kakinya bengkak, maka Nabi menegur untuk tidak diteruskan kebiasaannya. Buka Nabi membatasi orang sholat sunnah, tetapi kemampuan manusia terbatas, jika berlebih akan sangat tidak baik.

Demikian pula sabar. Tidak dibatasi, tetapi kemampuan manusia itu sendirilah yang terbatas untuk menjalankannya. Kanjeng Nabi Muhammad adalah manusia yang sudah mencapai puncak kesabaran, bahkan jibril yang tak bernafsu saja “menyerah” atas kesabaran beliau. Sehingga kalau kita tidak bisa seperti Nabi, paling tidak kita mau menyadari bahwa itulah referensi terbaik akhlak bersabar, sekaligus menyadari dan mengakui bahwa manusia punya batas-batas kemampuan masing-masing untuk menjalankan kesabaran. jadi mampu mengucapkan : “Saya masih belum bisa bersabar atas masalah ini. Semoga tindakanku ini dimaafkan Allah, dan dimudahkan Allah”. atau “Saya sebagai manusia mempunyai keterbatasan untuk bersabar, maafkanlah dan ampunilah”.

By the way, apakah sabar itu? sikap diam, sikap pasif, tidak peduli. Apakah sikap /do’a Nabi Nuh terhadap umatnya kemudian ditenggelamkan itu bersabar? Apakah Sikap Musa menenggelamkan fir’aun dan pasukannya termasuk bersabar? Atau ketika Ibrahim menyembelih anaknya juga termasuk sabar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s