Lailatul Ijtima’ (27) : Tersesat Sesaat

 

Beberapa saat aku tersesat, kehilangan diriku yang pernah begitu aku cintai. Ketenangan, kedamaian yang sebelumnya aku rasakan  pergi entah kemana. Kucoba berkali-kali aku mencari, memanggil-memanggil kepadanya untuk kembali. Dengan teriakan melengking, keletihan jiwa untuk mencari telah mengantarku pada puncak ragu. Benarkah jalan yang selama ini kutempuh sudah benar? Apa yang membuat aku kehilangan diri ini? Kalau toh ada yang bertanggung jawab, siapa yang perlu dipersalahkan? Kalau toh ada jalan atau cara lain, jalan seperti apa?

Berbagai tanya bermunculan, bercampur dengan ragu yang mengaduk-aduk, sehingga tak kusadari aku menjadi benar-benar bebal mengatasi kesulitan diri ini. Kesulitan menemukan diri sendiri yang masih bayi, yang sedang bertumbuh dan berkembang menjadi diri yang kokoh dan tenang menempuh perjalanan panjang, mengarungi kehidupan.

Puasa, ramadhan kali ini seharusnya menjadi saat yang tepat buatku untuk melatih diri. Harusnya menjadi saat untuk melelahkan jiwa dan raga untuk bergelut menguliti diri, mencari jati diri, menghapus noda-noda hati yang menjadi tabir penutup wajah jati diri. Konflik batin menjadi semakin rumit dan menyandera kesadaran akan APA YANG LAYAK UNTUK DIPERJUANGKAN? Pertanyaan ini begitu kuat dan dahsyat mengoyak kesadaran, mengobrak-abrik keyakinan, menggoyahkan keimanan. Ketakutan demikian hebat, bukan pada soal, akankah aku jadi ateis, tidak beriman atau tidak mendapat berkah puasa. Tetapi justru pada persoalan, bagaimana hidupku menjadi bermakna buat diri sendiri, ketika sudah tidak ada yang layak diperjuangkan dengan segala kekuatan dan daya yang dimiliki.

Oh….My God, oh…siapapun dia, bagaimana aku harus menjawab itu semua. Seluruh daya jiwa kukerahkan, seluruh daya fikir kuurai, seluruh ilmu yang kumiliki untuk meyakinkan diri menjawab pertanyaan penting tadi. Bahkan kekuatan pusaka yang kumiliki kukerahkan untuk membantu. Di saat semua menemui jalan buntu dan diam, semakin tampak kebodohan yang begitu besar menyelimuti diriku, betapa lemah loyo jiwa yang kumiliki. Tak ada daya yang kumiliki sanggup untuk kembali menemukan diri sendiri, menjawab akan apa yang layak diperjuangkan dalam hidup.

Akhirnya, menyerah juga untuk menerima semua kelemahan itu, dengan sepenuh-penuhnya bahwa diri ini memang lemah, memang tidak berdaya. Jika beberap saat ia hilang dan pergi entah kemana, hanya karena telah ditarik oleh sebuah visi, harapan, keyakinan pada keindahan dan kenikmatan palsu belaka. Seiring dengan penerimaan diri yang lemah, ketelanjangan dan kebodohan yang begitu dalam, samar-samar aku mulai melihat diri yang hilang. Sedikit demi sedikit mulai terdengar akan jawaban, apa yang layak untuk diperjuangkan dalam hidup. Ya memperjuangkan Hidup Diri sendiri agar benar-benar hidup dalam kehidupan, baik saat ini maupun kelak.

Semoga dengan puasa ramadhan tahun ini, aku bisa menelanjangi dan menguliti diriku sendiri untuk meraih kesejatian hidup yang layak untuk diperjuangkan dengan segala kelelahan, kepayaha, resiko kejenuhan dan ujian.

Wallahu ‘alamu bisshowab

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s