Lailatul Ijtima’ (19) : Holiday atau Hari Libur

Hari ini adalah hari minggu, bagi yang lain menyebut ahad, untuk orang Inggris menamakan Sunday. Apapun sebutan yang diberikan, sebagian besar dari kita menyebut sebagai hari libur. Tapi bagi yang lain, bukan hari libur sebab masih sibuk dengan urusan pekerjaan. Pemahaman kita akan hari libur merupakan sisi lain dari pemahaman kita pada hari bekerja.

Di saat anda memaknai hari kerja (mungkin mulai senin sampai jumat), maka konsentrasi anda, waktu anda, keringat anda dikerahkan habis-habisan, pepatah menyebutnya membanting tulang memeras keringat. Ketika memasuki hari sabtu, maka dalam pikiran anda, adalah menebus segala beban pikiran kerja yang sudah dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Tidak ada pikiran pada kerja, tidak perlu membanting tulang atau memeras keringat untuk pekerjaan. Semua ditinggalkan, dan diganti dengan kesenangan, rileks dan aktivitas yang ringan untuk memulihkan energi setelah terkuras. Dalam hal itu anda bisa melakukan banyak hal, mulai dari membaca, pergi ke puncak, ke kebon binatang, masak-masak, berkumpul dengan keluarga atau apa saja, yang penting tidak bekerja. Dengan demikian, hari libur adalah hari bebas kerja.

Jika kita mau meluangkan sedikit waktu untuk mengutak-atik soal istilah, hari libur adalah terjemahan dari Holiday. Padahal terjemahan seperti itu, jelas salah. Holi kan terjemahannya suci, jadi holiday ditranslate hari suci, bukan hari libur. Akhirnya menjad jauh sekali, kata suci diterjemahkan libur.

Saya tidak mencoba untuk mengarahkan bahwa hari minggu atau Sunday adalah hari suci, nanti dikira saya mengajak anda untuk murtad. Saya hanya ingin mengajak utak-atik untuk memaknai holiday sebagai hari suci, hari sakral, dimana awalnya adalah untuk membedakan secara sederhana antara dunia sakral dan profan. Bekerja dianggap sebagai aktivitas duniawi, aktivitas yang profan. Sedangkan hari dimana tidak bekerja adalah hari sakral/suci. Aktivitas ketika holiday adalah melakukan aktivitas ritual sakral untuk meninggalkan urusan duniawi.

Mungkin anda akan berontak, lha kita umat Islam kan punya hari suci, yakni Jumat? Sementara kita pada hari itu masih harus bekerja? Masak harus keluar dari sistem kerja seperti itu? Apa ya pada hari minggu kita ramai-ramai ke masjid? Akan banyak pertanyaan yang diajukan untuk mengkritisi pemikiran ini.

Maksud saya hanya simple. Bahwa pemahaman akan hari/waktu kerja anda akan menentukan pemahaman akan hari/waktu libur anda. Ketika anda benar-benar menganggap urusan duniawi, maka harus ada waktu/waktu yang benar-benar suci. Soal kapan, silakan cari dan sesuaikan dengan kesibukan anda. Kan ada dalam sehari semalam 5 waktu shalat, kalau masih kurang ada sholat duha, sholat tahajud, sholat rawatib, dan lain sebagainya. Anda tidak akan kekurangan untuk menyebutnya atau mencari patokan waktu libur anda.

Mungkin anda akan menjawab, “bekerja adalah ibadah buat saya, jadi tidak perlu waktu khusus untuk melakukan kesakralan, shalat tinggal dijalankan”. Ketika pemahaman bahwa bekerja adalah ibadah seperti, maka anda membutuhkan waktu untuk wuquf, berhenti sejenak. Anda bisa jadi bekerja seperti anda melakukan towaf, sa’i, melempar jumrah. Tetapi tetap harus ada wuqufnya. Bagi anda yang pada hari jumat longgar, maka lakukanlah dengan kelonggaran tersebut. Jika longgarnya, anda bisa lakukan kelonggaran pada hari tersebut. Atau hari apa saja. Dan Allah menyediakan waktu 24 jam untuk kita yang akan rehat sejenak dari hiruk pikuk urusan duniawi dan memfokuskan ritual sakral/suci.

Wallahu ‘alamu bisshowab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s