Lailatul Ijtima’ (11) : Kidung Padange Ati

Dulu, kala saya masih tinggal di kaki gunung Slamet ada salah satu kidung pujian yang kusuka untuk didendangkan. Kira-kira begini…allaahumma sholly alaa Muhammad, abdika, wa rosulika, wa nabiyyika, nabiyyil ummy…Gusti kulo nyuwun padange ati..ya Allah..witing iman, godhong sahadat, kembang sholawat…pentil zikir, wohe puji-pujian, Ya Allah, Amiin, Amiin, Ya Allah Rabbal aalamiin…

Yah…aku begitu suka, bisa jadi karena kidung itu saja yang aku hapal dan pede untuk kudendang ketika menunggu imam hendak shalat magrib. Jadi aku bisa lancar melafalkannya. Tapi, jujur aku sangat suka dengan syair bahasa Jawanya. Entah siapa yang mencipta syair kidung tersebut. Aku tidak tahu. Yang jelas itu kuperoleh dari masyarakat di kaki gunung Slamet, bahkan di tempat asalku di pesisir tidak kudapat ketika aku kecil.

Ada sebuah pencerahan melalui sebuah perumpaan yang digambarkan oleh syair tersebut tentang keimanan. Iman diibaratkan dengan wit (batang pohon). Keimanan seseorang diibaratkan sebuah pohon, dan batang tersebut adalah iman sebagai penyangga pokoknya. Sedangkan daun melambangkan syahadat. Mati hidupnya sebuah pohon ada pada daunnya. Ketika daun itu rontok, maka menunjukkan gejala sekarat (meranggas). Jika pohonnya sehat dan kuat diikuti oleh lebat dan segarnya daun. Artinya, syahadat seseorang yang kuat akan menjadi perlambang hidupnya iman dalam hati. Demikian pula sebaliknya.

Sholawat diibaratkan oleh kembang (bunga). Ya kecintaan kita kepada Rasulullah SAW melalui pujian sholawat melambangkan iman yang berkembang, yang berhias dan semakin indah dilihat. Pohon tersebut tidak sekedar hidup tetapi sudah menunjukkan adanya bakal buah (pentil) sebagai lambang zikir, dan tentu bakal ada manfaatnya sebuah pohon (diri). Manfaat tersebut serasa lengkap jika diakhiri dengan buah (woh-ing) puji-pujian kepada Allah. Hidup kita diabdikan untuk yang lain dengan tujuan memuji Allah. Itulah manfaat diri dalam kehidupan yang berasal dari akar kuat yang melekat dalam batang pohon keimanan.

Dengan sederhana kidung tersebut mengajarkan kepada kita bahwa keimanan akan nampak terasa dan lebih dirasakan keberadaannya ketika dia membawa manusia menjadi manfaat untuk yang lainnya. Ini pulalah yang disebut Rasul SAW, …khoirun naas, anfa’uhum linnaas…

Masihkah kidung itu dinyanyikan oleh anak-anak di sana? Aku yakin masih dan semoga membawa pencerahan buat yang mendengar dan mengumandangkannya, terlepas anda setuju atau tidak melagukan puji-pujian menjelang shalat berjamaah di musholla atau masjid.

Wallahu ‘alamu bisshowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s