Lailatul Ijtima’ (10) : Semut Hitam Berjalan di Atas Batu Hitam

Judul tulisan ini yang lengkap adalah “Semut hitam berjalan di atas batu hitam di tengah gelapnya malam”. Kalimat ini begitu terpatri dalam benakku sekian lama. Kalimat itu, persisnya pertanyaan, diajukan oleh Abuya Abdurrahman kepadaku di suatu ketika, yang mana beliau sempat bikin heboh Surabaya, disaat Surabaya juga diguncang isu ninja. Saat itu aku pulang kepagian ke kos, dan aku mampir di sebuah masjid, ternyata juga pondok, dan dengan tiba-tiba beliau memberi pertanyaan tersebut dan diminta untuk menguraikan maksudnya. Lha wong saya ndak ngerti, ya aku jawab secara diplomatis (he he he) bahwa yang nanya jauh lebih mengerti maksudnya.

Kalimat tersebut bagi anda mungkin sudah tidak asing lagi. Apalagi anda yang suka dan bergairah dalam menyelami samudra ilmu hikmah. Kalimat itu sebenarnya sebuah kiasan, sebuah perumpaan terhadap sesuatu. Ya semut sebagai kiasan dosa yang bersemayam dalam hati (batu hitam) di tengah kegelapan malam (tidak ada pencerahan). Secara bodoh, kalimat itu akan mengundang jawaban :” ya tidak kelihatan semutnya donk…”. Memang semutnya tidak kelihatan. Itulah perumpaan dosa yang menempel dalam hati kita, yang seringkali kita tidak sadari, tidak bisa kita hitung dan liat dengan terang benderang. Padahal, banyak ulama sudah menerangkan penyakit hati (dosa hati) yang jumlahnya demikian banyak dan bisa jadi sering kita lakukan tanpa kita ketahui dan sadari.

Sendainya anda menggunakan ukuran global dan gampangan mengenai definisi dosa dengan batasan “segala sesuatu yang menjauhkan dari Tuhan (Yang Kuasa- adoh karo sing kuoso)”, maka banyak sekali aktivitas dan uneg-uneg kita sudah masuk kategori dosa. Buanyak sekali bagaikan buih dilautan. Atau mungkin anda menggunakan definisi lainnya. Silakan saja. Saya yakin anda akan tetap menjumpai dosa yang begitu banyak dalam diri.

Semua itu sering kita abaikan, karena kalpaan atau kesibukan dalam urusan lain (bahasa jawanya ketungkul ngurusi lian), sering kita tidak akui, atau sering kita anggap dosa kecil (padahal yang namanya dosa, kecil apa besar ya tetap dosa) sehingga tidak perlu diperhatikan. Kondisi demikian yang terus menerus dan berulang sekian hari, sekian bulan dan sekian tahun, maka membuat hati kita seperti batu hitam dan kegelapan malam yang menghalangi pandangan akan semut (dosa) yang jumlahnya demikian banyak.

Baru-baru ini seorang sahabat menuturkan bahwa sebuah titik hitam yang ada pada dinding bercat putih, akan nampak putih terang dalam keadaan gelap gulita (peteng det det). Beliau sudah membuktikan itu ketika diuji dalam ketajaman mata batinnya. Katanya semakin tajam maka akan semakin jelas titik hitam tersebut terlihat sebagai cahaya putih. Ini bisa jadi memberi pelajaran kepada kita bahwa untuk mampu melihat semut hitam di atas batu hitam di tengah gelapnya malam hanya akan mudah dilihat jika kita berlatih dan berlatih mempertajam batin kita.

Anda ingin membuktikannya…sumonggo….

Wallahu ‘alamu bisshowab

Iklan

2 tanggapan untuk “Lailatul Ijtima’ (10) : Semut Hitam Berjalan di Atas Batu Hitam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s