Lailatul Ijtima’ (8) : Ilmu “Ndablek

Sekitar dua minggu lalu, saya diberi sebuah label oleh saudara tua, yang sudah aku anggap sebagai pembimbing selama bertahun-tahun. Memang aku tidak menemuinya secara rutin, dalam waktu-waktu tertentu. Aku datang lebih banyak karena merasa ada dorongan hati. Ya…aku disebut sebagai orang yang ndablek, (cuek kali ya dalam bahasa Indonesia). Katanya : aku datang tidak hanya untuk satu kasus dan selesai, tetapi kok datang meski banyak kegagalan atau cobaan yang saya hadapi, pokoknya saya menjadi bimbingannya ketemu enak lah…malah banyak susahnya. Kira-kira begini : ini kok dak capek ya…padahal ketemu dak enak terus. Padahal dari sekian ribu orang yang pernah ditanganinya, kalau udah selesai masalah atau terkabul ya sudah selesai. Kalau dak berhasil ya berhenti. Lha ini kok malah ndablek ae…he he he.

Memang ada semacam keyakinan dalam diri saya sendiri, untuk urusan mendekat kepada Allah SWT saya menggunakan ilmu dablek/cuek. Maju terus. Meski diri ini belepotan lumpur dosa dan lupa. Bisa jadi saya lupa dalam waktu lama, sesat dalam waktu yang cukup. Tapi keinginan untuk mendekat tidak terhalangi oleh hal itu.

Meski banyak cobaan yang saya hadapi dan kelihatan tidak pernah selesai saya berusaha cuek saja, berusaha mendekat. Meski tidak ada tanda-tanda yang aku lihat sudah dekat, aku tetap berusaha mendekat.

Logikaku sederhana sekali. Kalau kita tidak ndablek..memang apa yang harus dicari? Apakah aku akan berganti Tuhan selain Allah? Meski banyak dosa, apakah ada yang bisa memberi ampunan? Allah sudah tegaskan…Laa yaghfirudzunubba illallaah…tak ada tempat di alam ini selain milik Allah. Apakah kita sudah baik atau masih jelek, toh tetap saja Allah lah yang wajib disembah, Allah lah tempat bergantung.

Memang dulu ada seorang Kyai (Kyai Cholil semoga Allah memberi rahmat dan ampunan kepadanya dari daerah Juwana/Pati) yang memberi nasehat…terhadap Allah…kamu ndablek saja….soal diterima atau tidak cuek saja..yang penting kamu jalani, kamu lakukan sekuatmu…

sebenarnya tidak ada yang sia-sia…sebenarnya Allahh tidak membiarkan hambanya yang sungguh-sungguh…(ndablek)…tergantung kita bisa peka melihatnya dan merasakan atau tidak. Banyak anugrah dan berkah melimpah buat diriku dan keluarga…meski itu kutemukan dibalik kepayahan, kesulitan dan cobaan hidup….

Wallahu ‘alamu bisshowab…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s