Lailatul Ijtima’ (6) : Sebuah Nama : ISLAM

Lailatul Ijtima’ (6) : Nama Islam

TULISAN INI MERUPAKAN CATATAN SAYA TENTANG SEBUAH KHUTBAH PADA SHALAT JUM’AT BEBERAPA WAKTU LALU, DAN SAYA MERASA BENAR-BENAR TERINSPIRASI. TEMA KHUTBAH WAKTU ITU ADALAH MENGENAI SEBUTAN AGAMA ISLAM. Tulisan ini tidak hendak merendahkan agama atau umat agama lain, hanya sebatas bentuk introspeksi diri dan upaya menemukan kebenaran yang selama ini saya yakini dalam memeluk Islam.

Islam adalah agama yang unik. Nama Islam sendiri adalah istimewa. Keyakinan dalam Islam juga menunjukkan adanya keterkaitan sejarah dan perkembangan peradaban manusia, sejak manusia awal hingga akhir zaman. Mengapa Islam unik? Ya, karena nama Islam, nama sebuah agama tidak dinisbahkan (dikaitkan dan didasarkan) pada penemu/pemula, tempat, atau yang dipuja. Agama Islam tidak disebut sebagai agama Muhammadiyah atau Ahmadiyah (karena beliau adalah pembawa ajarannya), juga tidak dinisbahkan kepada sebuah tempat, yakni Arabiah atau Quraisyiyah. Cobalah sekedar membandingkan : agama Yahudi dinisbahkan kepada pembawa yaitu Yahuda (putra Nabi Ya’qub a.s) yang kemudian keturunan Nabi Ya’qub disebut sebagai bani Israil. Agama Nashrani dinisbahkan kepada tempat kelahiran Isa a.s, yakni nasharet.

Mengapa nama Islam istimewa? Ya, karena yang memberi nama itu adalah Allah sendiri. Firman Allah SWT …dan telah AKU sempurnakan kepadamu Islam sebagai agama…Cobalah anda cari dalam agama lainnya, dimana Tuhan sendiri yang memberi nama. Manusia, umat agama tidak bisa memberi label tentang agama, sebab agama bukan buatan manusia, tetapi agama diturunkan oleh Sang Pencipta buat manusia.

Islam benar-benar mengajarkan sebuah pembangunan peradaban keberagamaan yang berjalan dan bertahap disesuaikan dengan zaman. Semua para Nabi dan Rasul dalam Islam tidak dibedakan…Firman Allah SWT…Laa nufarriqu baina ahadin min rosuulihi….Ibrahim a.s, Musa a.s, Yusuf a.s (putra Ya’qub), Isa a.s. semua diakui keberadaannya sebagai pemabwa dan pemeluk Islam. Syariat masing-masing nabi tersebut sangat disesuaikan dengan zaman atas kehendak Allah. Bahkan pada akhir zaman nanti, penutup dari kehidupan ditutup dengan kewalian Nabi. Isa a.s. yang hidup di zaman sebelum Muhammad SAW. Para rasul adalah orang-orang yang disebut sebagai pelaku hanif jalan lurus dan kaum yang berserah diri kepada Allah. Demikian pula Muhammad SAW membawa ajaran tersebut dengan tetap mengajarkan kepasrahan kepada Allah, menempuah jalan lurus untuk kembali kepada jalan penghambaan kepada Allah SWT. Dan itulah jalan keselamatan, jalan yang menyelamatkan. Dan itulah Islam (keselamatan). Siapa saja menempuah jalan tersebut, apakah dia hidup pada zaman purba ribuan tahun sebelum Muhammad SAW atau bahkan jutaan tahun setelah Muhammad SAW tetap disebut sebagai orang Muslim.

Apakah kita masih meragukan Islam sebagai jalan keselamatan? Solusi menyelematkan hidup kita di dunia dan akhirat kelak? Wajar saja jika itu masih bersemayam dalam hati anda. Sebab itulah qolbu (berubah ubah). Yang terpenting buat diri kita adalah membuktikan itu semua. Jika para Nabi, waliullah bisa membuktikan itu, Allah memberi kesempatan yang sama buat kita. Bagaimana membuktikan bahwa Islam menyelematkan hidup kita hanya dengan satu cara, membuktikan dengan pengalaman sendiri. RELIGION IS EXPERIENCE. Agama adalah pengalaman. Tanpa pengalaman agama hanyalah slogan, hanyalah candu yang sekedar melupakan penderitaan, hanya penghias kehidupan.

Anda tertarik membuktikannya? Mari bersama-sama membuktikan itu semua, biar tidak sekedar jare…(katanya…katanya…katanya…).

Wallahu ‘alamu bisshowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s