Lailatul Ijtima’ (3) : Mulainya Hari

BEBERAPA KAWAN, KENALAN DAN KERABAT BERTANYA TENTANG WAKTU JAM 11 MALAM TERMASUK HARI BERIKUTNYA ATAU MASIH HARI YANG SAMA? AKU JAWAB SAJA MASIH HARI YANG SAMA. Pertanyaan tersebut tentu tidak akan muncul dari orang Inggris, atau Arab. Biasanya pertanyaan itu muncul dari orang-orang Indonesia, khususnya orang Jawa, mengapa? Ya karena, di Jawa, persoalan perhitungan kalender mengalami beberapa perubahan dan pengaruh. Dulu, kata si Mbah, orang Jawa mengenal dan menghitung hari ya 5, Kliwon, Legi, Paing, Pon dan Wage. Kemudian dalam perkembangannya, pengaruh kalender Matahari (Syamsiyah) mulai masuk, maka dikenal 7 hari, yang akhirnya seperti sekarang kita kenal, Ahad, Senin sampai Sabtu. Perubahan tersebut sebenarnya sudah mengandung banyak pengaruh. Misalnya soal nama : kata-kata itu banyak pengaruh Arab. Masih kata si Mbah, penanggalan Jawa pada dasarnya adalah berdasarkan matahari (syamsiyah) atau berdasarkan revolusi terhadap matahari, seperti halnya kalender masehi (mungkin juga China, Persi atau lainnya). Kalender matahari menempati urutan yang terbanyak digunakan. Hari dimulai pada pukul 00.01 atau jam 12 malam sudah masuk atau batas hari. Setelah Sultan Agung di Mataram mendeklarasikan kalender Jawa yang sudah terdapat pengaruh Arab/Islam, maka perhitungan hari sudah didasarkan pada perputaran bulan (Qomariyah). Nah disinilah repotnya penanggalan versi mataram ini sudah mencampuradukkan banyak budaya. Hitungan hari sudah dimulai pada terbitnya bulan atau tenggelamnya matahari. Pada akhirnya di kalangan masyarakat Jawa ada yang menggunakan hitungan bulan dan sebagian masih tetap menggunakan matahari. Itu belum termasuk perbedaan perhitunan awal tahun, dimana di Jawa juga mengenal perpuataran tahun dalam satu windu (8 tahun). Maka tidak perlu heran ada kelompok yang menggunakan kalender Aboge (tahun Alip dumulai pada hari Rebo Wage). Terus apa urgensinya? Disinilah perdebatan akan semakin rumit dan bisa-bisa subyektif. Penanggalan Jawa awal (sebelum pengaruh Islam), kalender adalah berkaitan dengan perbintangan, musim atau hanya sebagai penanda alam dan kejadian-kejadian alam. Hal ini juga berlaku bagi kalender masehi dan lainnya. Jika lebih ekstrim, itu bisa berkaitan dengan nasib atau takdir manusia. Sementara kalender Islam (Hijriyah) lahir didasari atas kerangka pendidikan, tarbiyah dalam pembentukan karakter dan kepribadian manusia. Cobalah anda perhatikan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah, ada muharrom, safar, ramadhan dan sebagainya mempunyai arti harfiah dan maknawiyah sebagai pendorong dalam mendidik karakter manusia. Misalnya bulan Ramadhan dimaknai sebagai bulannya puasa (artinya panas yang membakar dosa-) atau muharrom (banyak hal diharamkan atau mensucikan). Hal ini mirip yang ada di Jawa dengan nama-nama tembang (lagu) dari Mijil sampai pocung (dari lahir sampai mati). Pemahaman akan mulainya hari (dan waktu secara keseluruhan), akan menuntun kita pada beberapa pemahaman akan praktik-praktik ritual yang berkaitan dengan waktu. Kita akan bisa memahami mengapa dalam keyakinan Jawa dianjurkan ibadah pada jam 12 malam dengan neng ning nung. Dengan itu pula, kita akan paham mengapa Rasulullah begitu memuliakan sepertiga malam akhir sebagai malam yang mustajabah dan waktu subuh/fajar adalah waktu para malaikat menebar rezeki. Demikianlah Allah sudah mengatur agar menjadi tanda-tanda yang meneguhkan keimanan. Wal ashri…innal insaana lafii husrin…illalladzina aaamanu….(dan seterusnya) Wallahu ‘alamu bisshowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s