GERAKAN SPIRIT 212 DAN JEJAK WALISANGA

 

Apa yang dilakukan oleh mereka dengan sebutan Gerakan Spirit 212 dalam rangka lebih meningkatkan ghirah keislaman di berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi; menurut saya adalah mengikuti jejak walisanga dahulu kala ketika berdakwah di Nusantara. Mengapa? Apa yang sedang dijalankan sebenarnya adalah sebuah perang budaya, seperti walisanga telah melakukannya.

Perang budaya menurut saya, adalah sebuah peperangan yang mana budaya dan/atau produk budaya sebagai medan dan bahan peperangan itu sendiri. Budaya atau produk budaya yang sedang popular kemudian digunakan untuk memberi makna baru, gerakan baru yang berbeda dari yang sudah ada dengan tujuan tersendiri. Sebut saja budaya popular bermedsos (menggunakan media sosial). Yang pada awalnya sebagai aktivitas pertemanan, perkenalan dan sharing kabar/ide digunakan sebagai media dakwah Islam, untuk menyebarkan faham keislaman. Perubahan ini, tentu ada yang seide dan tidak. Pada akhirnya media sosial benar-benar menjadi ajang pertarungan “jualan ide dan dakwah”.

Walisanga dahulu merubah dan memberi makna baru pada Kali-Ma-Sada. Bagi pengikut Durga, itu adalah ilmu kesehatan (Kali-Maha-Husada) yang diberikan oleh Dewi Durga dalam bentuk Dewi Kali. Dalam Bharata Yuda, Kali-Ma-Sada adalah pusaka milik Yudhistira yang sangat sakti. Prabu Salya yang begitu hebat, takluk akan pusaka ini. Oleh para wali, Kali-Ma-Sada melalui pewayangan dijadikan alat/budaya untuk mengenalkan konsep Syahadat, yang lebih akrab, kalimat syadat. Atau dalam makna lain, yaitu mengingatkan bahwa manusia mempunyai 5 unsur dalam dirinya yang tetap harus dijaga keseimbangannya; seperti Ka-hewanan, Ka-setanan, Ka-tuhanan (Ka-Lima-Sada).

Sampai hari ini, masih banyak yang menyebut pengenalan Kali-Ma-Sada berubah menjadi Ka-Lima-Sada atau Kalimasyadat itu sebagai bentuk penipuan, pemalsuan makna yang sejati. Ya, itu adalah konsekuensi dari perang budaya itu sendiri. Siapa yang menang, maka akan menguasai pemaknaannya. Sejarah adalah His-Story, tergantung siapa (he) yang menulis.

Gerakan spirit 212 adalah  upaya menggunakan momen demonstrasi atas penistaan agama yang terjadi pada 2 bulan 12 tahun 2016. Orang akan lebih mudah mengingat ini. Momen yang begitu populer, sampai dikenal di seluruh dunia, dijadikan alat untuk menggerakkan ghirah keislaman pada waktu setelahnya.

Apakah akan berhasil? Sebab perlu diingat, jauh sebelu momen 2 desember (12) itu, masyarakat Indonesia sudah mengenal dan akrab dengan inisial 212 bagi pendekar Wiro Sableng, sebuah kisah dalam novel karya Bastian Tito. Jika kemudian spirit 212 berhasil, bisa jadi kelak penggemar Wiro Sableng akan protes, sebab makna 212 yang asli bagi mereka adalah tokoh murid Sinto Gendheng itu, bukan demo 2 desember 2016.

Maka, sampai di mana pertempuran itu akan berlangsung? Kita tunggu saja hasilnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hoax dan Misi Kerasulan

aswaja-nusantaraSebenarnya tulisan ini pernah saya tulis di tahun 2013, namun belum pernah saya publikasikan. Dari hasil sebuah diskusi dengan beberapa kawan di Padepokan Al hady yang penuh berkah asuhan Kyai Ageng Begawan Semprul Syaifullah Munir Aminullah, saya membuat sebuah ibarat rumusan bahaya ancaman terhadap Indonesia dan sebenarnya sekaligus pada Islam (Aswaja).

Saya sebagai muslim yang hidup di Indonesia tentu boleh membuat sebuah konsep pemahaman akan keber-agamaan dan kebangsaan yang saya pahami dan yakini. Ibarat sebuah rumah, maka fondasi Indonesia sebenarnya adalah Aswaja Nuswantara yang sudah dahulu diajarkan oleh para ulama, walisanga di Nuswantara. Pilar kebangsaannya adalah Pancasila, UUD ’45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Dinding untuk mempererat pilar itu adalah pesantren, di mana di dalamnya ada kyai dan santri. Sementara atapnya, pelindung rumah adalah ilmu pengetahuan teknologi dan budi pekerti (akhlakul karimah).

Keinginan merusak rumah tersebut, mungkin langsung menyerang pilarnya tentu akan mudah ketahuan dan akan segera di lawan. Atau mencoba membongkar-bongkar fondasinya, tentu perlawanan hebat. Bisa anda saksikan ketika ideology wahaby (salafy) masuk di Indonesia menyerang fondasinya, maka rama-rame perlawananannya. Demikian pula yang mencoba-coba mengganti Pancasila dan NKRI. Secara terang-terangan. Demikian pula serangan kepada kyai dan santri juga mendapat perlawan yang kuat. Kesemua komponen itu akan sulit dilawan secara langsung.

Nah, maka serangan itu melalui atapnya. Orang yang di dalam rumah seringkali tidak terasa. Kalau bocor, dilihat, ah masih sedikit. Lama-lama kalau ada genting yang ambrol baru terasa, kalang kabut. Akhirnya lama-lama pilar-pilar ikut ambruk, dan fondasinya juga ikut terkoyak, rusak. Rumah ambruk.

Hari-hari ini, atap yang bocor dan rusak itu adalah dalam bentuk serangan HOAX. Perpaduan penggunaan teknologi informasi dan budi pekerti yang buruk menghasilkan kebocoran atap yang luar biasa. Kyai santri goyah diadu, NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45 ikut goyah. Bahkan fondasinya juga mulai ikut-ikutan poran-poranda. Begitu dahysatnya HOAX, seperti yang terjadi pada pilpres di AS, ada yang memproduksi berita hoax dengan penghasilan milyaran rupiah. Meski secara langsung tidak terbukti turut serta memenangkan Trumpt, tetapi berita Pro-Trumpt menjadi buruan paling laris, dan itu disediakan oleh penyedia berita hoax.

Memang benar apa dawuhnya Ranggawarsita, bahwa jaman memasuki jaman edan dan kerusakan, selalu ditandai dengan kerusakan moralnya dahulu, teknologi berikutnya, seperti Jawa sing kalungan wesi. Nah sebenarnya inilah misi kerasulan, penyempurnaan akhlak. Siapapun yang berjuang melawan hoax adalah mereka penerus perjuangan kerasulan Muhammad SAW, yakni li utammima makarimal akhlak (menyempurnakan akhlak). Sebaliknya mereka penyuka, penyebar dan pembuat hoax adalah musuh Rasul yang sesungguhnya.

Tahlil…..

INDONESIA vs THAILAND Leg-2; ANALISIS WETON

peta-aseanPertandingan Leg-2 Indonesia vs Thailand dalam Final Piala AFF 2016 diselenggarakan nanti malam di Thailand. Nanti malam, dalam hitungan kalender Jawa, yang lama, berbasis solar (matahari) artinya masih hari Sabtu Legi. Jika menggunakan kalender Jawa perpaduan hijriyah yang umum digunakan, setelah perpaduan yang dilakukan Sultan Agung, maka waktu habis Magrhib masuk hari Ahad, jadi Ahad Pahing.

Dalam hal ini saya menggunakan yang solar, artinya masih Sabtu Legi. Neptunya 14 (9+5). Dewanya Durga, dewa yang menakutkan dan tidak kenal takut, ngamuknya luar biasa. Energi Durga bisa memberi kekuatan bagi timnas Indonesia. Tetapi, kalau Thailand yang mencuri energi ini bisa bisa mati kutu tim kita. Durga bukan Dewa yang gampang dihasut untuk marah. Ia akan marah besar, kalau menyangkut anak-anaknya yang tersiksa. Jadi, supporter kekuatan yang bisa membangkitkan kekuatan dahsyat Durga.

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar kekuatan dahsyat bisa memompa semangat untuk menang. 1) jangan sombong. Sabtu legi ini pohonnya Cemara, banyak omong dan sombong. Pelatih Riedl yang pendiam tepat dalam hal in, 2) Durga kalau ngamuk suka bikin keributan, jaga supporter jangan sampai ribut, harus bersatu kalau mau menang, 3) Aralnya kena santet, nah ini berarti harus banyak do’a, supporter mendukungnya pake do’a, kalau yang di stadion sana plus yel-yel yang kompak dan terti, 4) watak Kala Jaya Bumi yang dari Barat Daya menghadap Tenggara. Posisi ini kalau melihat peta seperti pepatah Kutuk Mburu Sunduk, Ula Mburu Gepuk. Posisi Indonesia ke Thailand adalah arah lawan dari Tenggara ke Barat Daya, ini tidak baik pergi ke Barat Daya (arah pokok Barat), apalagi dari Tenggara.

Dari hal-hal itu, maka peluang timnas Indonesia kalah lebih besar, karena kekuatan Durga (dari supporter milik tuan rumah), pergi kea rah Barat Daya adalah langkah tidak tepat. Untuk mengatasi ini, maka melawan kekuatan Durga tadi adalah kekuatan Do’a dari supporter di mana saja. Sabtu Legi baik dalam rangka menjadi utusan, maka niat membela timnas untuk mengharumkan nama baik bangsa juga menjadi kunci. Kalau niatnya invidual, egois, nama baik sendiri, kekalahan akan mudah didapat.

Lantas do’a apa yang terbaik? Jika saya, maka banyaklah bershalawat, karena ini bulan Maulid, ngalap berkah darinya. Mesio kalah, timnasnya, berkahnya tetap bisa didapat, asal jangan pake emosi, nanti jadi Durga itu sendiri.

SIAPA BANGSA JAWA ITU?

Pertanyaan ini jika dijawab dengan sudut pandang etnologi, maka bisa jadi rumit, karena siapa sebenarnya yang pertama kali hidup di tanah Jawa, akan sulit dijawab. Ditambah lagi kemudian dengan perkawinan antar etnis sepanjang zaman, tentu melacak keaslian etnis akan sangat sulit, dan akhirnya sangat debatable.

Dalam Layang Joyoboyo, yang menyebut bangsa Jawa, menurut saya bukanlah soal etnis. Tetapi lebih pada pandangan substantif. Artinya definisi bangsa Jawa yang dijabarkan dalam layang tersebut bisa diterapkan kepada semua jenis etnis di dunia ini.
Memang dalam Mokoholo:12 disebutkan demikian: “Gusti kang moho kuwoso, kang nduweni panguwoso kang gede, ono ing djagat iki. Ugo siro bongoso Djowo kang tak paringi kadegdayan, marang bohoso ngoko, bohoso kromo inggel, bohoso kromo madyo, bohoso ngawi ngisor, bohoso ngawi nduwor, ugo isine layang Djojobojo. Supoyo siro kabeh biso nenuwon marang Gusti nganggo, opo kang dikarepake Gusti”.
(terjemahan: Hanya Tuhan Yang Mahakuasa yang menguasai jagat ini. Bangsa Jawa juga demikian, berkuasa, tetapi atas pemberian Tuhan, yaitu kemampuan berbahasa ngoko, krama inggil, kromo madya, ngawi ngisor dan ngawai nduwur (tingkatan bahasa, dari yang paling kasar sampai sangat halus), serta isi layang Joyoboyo, agar kalian bisa memohon kepada Tuhan melalui apa yang sudah dikehendaki Tuhan”).

Apakah kemampuan berbasa yang mengenal tingakatan seperti itu hanya milik etnis Jawa? Tentu tidak. Banyak bahasa yang mengenal tingkatan kehalusan. Kehalusan bahasa ini (berbasis bahasa Ibu) adalah bahasa yang baik, tepat berangkat dari hati nurani terdalam setiap manusia. Ketawadlu’an, penghormatan dalam permohonan kepada Tuhan adalah yang dikehendaki oleh Tuhan. Itulah sopan santun, dimana setiap bangsa/etnis tentu memilikinya dengan cara dan warna yang berbeda.

Lantas siapa bangsa Jawa yang sesungguhnya dikehendaki dalam Layang Joyoboyo sebagai sumber agama Kejawen ini? Saya kutip dalam Hodjorolo:10: “Gusti pareng sabdho: bongoso Djowo, yo kuwi bongoso kang wiwitan, kang dadi tjiptakane Gusti, kang teko ing bumi mulyo iki kang nggowo kuwasane Gusti, sak durunge ono djalmo manungso…”
(terjemah: Tuhan bersabda: Bangsa Jawa, yaitu bangsa/manusia yang pertama, yang diciptakan, yang datang di bumi suci, yang membawa kuasa Tuhan, sebelum adanya jalma manusia’).

Ayat ini perlu dibedakan, yakni bangsa/jalma kawitan (awal) dan jalma manusia. Jalma/ciptaan awal yang datang di bumi suci, maksudnya adalah setiap manusia yang ada di rahim ibunya. Sebab dalam konteks ini bumi suci adalah Rahim/kandungan. Sementara jalma manungso, adalah yang sudah lahir. Keterangan ini diberi tambahan penjelasan dalam Djoborolo:23: “ Tjubo dipiker kang tenanan, marang pangomonganku iki. Siro ditjiptakake Gusti, soko: Lemah, geni, banyu, lan angin, bandjor teko udjute siro kang moho sutji ing bumi mulyo iki. Awet siro djalmo manungso djowo kangwiwitan, kang teko ono ing djagat iki, kang nggowo kuwasane Gusti, kang 35 dino”. (terjemah: cobalah direnungkan, terhadap sabdaku ini. “kalian dicptakan Tuhan dari tanah, api, air dan angina, kemudian sampai wujud di Rahim. Karena itulah sebagai manusia awal, kemudian datang ke dunia ini dengan membawa kuasa Tuhan yang selama 35 hari”). Kondisi awal yang masih suci bersih dalam pandangan ini, sampai pada usia selapan (35 hari), dan itu masih dalam kategori manusia awal. Dan itulah yang disebut bangsa Jawa.

Dengan demikian, agama kejawen itu mengingatkan akan asal-usul ini sebagai bangsa Jawa, untuk berpikir dan merenung, menemukan kembali kesucian seperti pada awalnya. Maka tidak mengherankan, ayat-ayat dalam Layang Joyoboyo kemudian menyebutkan bahwa bangsa Jawa pasti akan lupa akan asal-usulnya, lupa pada Jawanya, karena sudah hidup di dunia ini dengan pula diiringi setan yang ada dalam raganya. Banyak sekali peringatan soal ini. Seperti dalam Hosoropolo:5: “Gusti pareng sabdho: bongoso Djowo kabeh kang ono ing djagat iki, bakal ora mirengake maneh marang ngendikane Gusti. Awet sabdhoning Gusti kuwi uwes luweh disek teko”. (terjemahan: Tuhan bersabda: bangsa Jawa semua yang ada di jagat ini, akan melalaikan sabda Tuhan, padahal sabda Tuhan sudah datang *) ketika dalam kandungan”). Demikian pula dalam Mokoholo:14: “Pangelingan siro bongoso Djowo, kang uwes manggon ono ing sirahe siro, bakal disirnakake Gusti soko kahuripane siro…” (terjemahan: ingatan kalian, hei bangsa Jawa yang sudah ada dalam kepala, bakal sirna dari kehidupan kalian). Ini terjadi ya karena sudah masuk dunia penuh bahaya.

Nah, apakah anda sadar sebagai orang Jawa, atau hanya merasa jadi orang Jawa?

HILANGNYA “AGAMA” KEJAWEN

“Gusti kang moho mreksani marang kedadian kang nyoto, marang tumindakhe bongoso Djowo kang ora nerimo marang peparingane Gusti kang moho sutji. Bandjor Gusti pareng sabdho: Yen tanah djowo katekan djalmo manungso liyo kang dadi tjiptakane Gusti. Agomo Kedjawen lan sak isine layang Djojobojo, kang ditules: Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo, kanggone leluhure bongoso Djowo, bakal tak sirnakake deneng kuwasane Gusti, kang moho sutji” (Surat Hodjorolo:11, Suhuf Joyoboyo).
“Tuhan Mahamengetahui kejadian nyata, mengetahui tingka laku bangsa Jawa yang tidak menerima pemberian Tuhan Yang Mahasuci. Kemudian Tuhan bersabda: jika tanah Jawa kedatangan manusia lain yang juga ciptaan Tuhan, agomo kejawen da nisi dari layang Joyoboyo yang ditulis oleh: Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo, leluhurnya bangsa Jawa, maka bakal aku sirnakan karena kuasa Tuhan Yang Mahasuci”.

Ini adalah peringatan bagi orang Jawa, bagi kejawen yang sudah tidak mengindahkan ajaran/agama leluhurnya yang sudah ditulis dan diajarkan oleh empat malaikat pendampingnya. Dengan kata lain, ketika manusia Jawa sudah mengabaikan budinya, rasanya, pikiran dan sukmanya serta manusia Jawa sudah lupa pemberian dari Tuhan, berupa kasih sayang yang melimpah bisa hidup didunia dengan didampingi empat penjaga tersebut, maka agama/ajaran Kejawen akan disirnakan oleh Tuhan sendiri.

Ada dua faktor utama, mengapa kemudian kejawen disirnakan, akhirnya orang Jawa menjadi tidak njawani. Pertama, faktor lalai, lupa bahwa semua yang dimiliki, diterima dalam kehidupan ini adalah dari Gusti Yang Mahasuci. Ini juga disebut dalam (Djoborolo:25): “ Gusti pareng dawoh: Yen Gusti ndeleng kahuripane siro bongso Djowo, kahuripane siro kabeh nggawe nelangsane Gusti. Sedjatine siro kuwi mangerteni, deneng Gusti kuwi kang maringi, sak kabehe marang kahuripan siro”. Ya, karena manusia Jawa tidak pernah menyadari akan pemberian Tuhan.

Faktor kedua, adalah kedatangan manusia lain yang mengajak melupakan ajaran sejati, ajaran yang dibawa oleh empat malaikat. Manusia Jawa lupa bahwa dalam dirinya ada budi, rasa, pikiran dan sukma yang selalu mengajari ajaran (agama) Gusti Yang Mahasuci. Malah-malah berkeliaran ke mana-mana. Ini disinggung dalam (Hosoropolo:2) : “Anangeng sabdhoning Gusti kang uwes tak tules ono ing layang Djojobojo, kanggone siro bongoso Djowo. Gusti pareng dawoh: siro bongoso Djowo, bakal ninggalake agomo peparingane Gusti kang moho sutji. Lan Gusti pareng sabdho: siro bongoso Djowo bakal lungo adoh, kanggo nggolekhi asmone Gusti, siro dewe bakal ora nduweni katentreman, yen siro kuwi lali marang asmone Gusti, kang uwes temuron kanggone siro, ing tanah djowo”. Dalam ayat ini tegas, bangsa Jawa akan berkeliaran ke mana-mana, karena tidak mengenal asli jati dirinya, lupa pada Gusti Yang Mahasuci, lupa pada asmanya. Jika sudah demikian, maka jangan harap akan ada ketentraman dalam hidup.

Kelebihan Bangsa Jawa

Dalam Layang Joyoboyo, Surat Mokoholo ayat ke-10 yang bunyinya:
“Awet kuwasane Gusti kang diparengake marang siro, luweh gede katimbang Gusti pareng kuwasane marang djalmo manungso. Supoyo bongoso Djowo kuwi biso nenuwon marang Gusti, nganggo bohoso ngawi, lan biso tjedak marang Gusti”.
== Sebab kekuasaan Tuhan yang diberikan kepada kalian (bangsa Jawa), lebih besar daripada manusia lainnya, supaya kalian bisa memohon kepada Tuhan, dengan menggunakan bahasa (kawi, halus) dan bisa mendekat kepada Tuhan.

Dalam tradisi kejawen, ada semacam kabar langit yang kemudian disusun dalam Layang Jayabaya, yang terbagi ke dala, beberapa kelompok dawuh Tuhan, yakni dari Joborolo, Mokoholo, Hosoropolo dan Hodjorolo. Dalam Mokoholo (10) disebutkan, bahwa bangsa Jawa itu didekatkan dengan Tuhan, atas kuasa Tuhan, namun semata-mata agar bisa bermunajat dengan bahasa rasa (kawi, kuno, yang halus), gampangnya bahasa ibu, untuk lebih dekat kepadaNYA.
Ini bukan soal klaim keunggulan ras, yang seperti terjadi pada bangsa Aria, Hitler, atau Parsia, atau Yahudi atau sejenisnya, dimana kuasa yang (diklaim) diberikan lebih oleh
Tuhan untuk menguasai manusia lainnya…..
=== he he he, indah bukan ajaran Jawa?….

Bersambung …

PENGORBANAN

“Tuan Syech, apakah dahulu Kanjeng Nabi Muhammad juga mengorbankan diri, sehingga beliau memiliki derajat yang demikian tinggi?”
“Benar saudaraku. Ber-Islam, mendekat kepada Hyang Haq, tak akan terjadi tanpa pengorbanan. Apa yang dulu aku lakukan (pernah kuceritakan padamu) hanya usahaku meneladaninya. Tak lebih dari itu”.
“Beliau mengorbankan keakuan yang tertinggi dalam sepanjang sejarah manusia, bahkan alam raya ini. Beliau adalah sayyidur rasul, sayyidul anam, tapi saksikanlah yang dikurbankan, yakni keakuan sebagai pembawa Al Haq. Para Nabi dari bangsa Israel dideklrasikan juga pembawa Al Haq, saudara dari leluhurnya, Ismail. Beliau melepaska keakuan yang demikian tinggi, bahwa kebenaran tidak hanya miliknya, meski ia adalah penghulu dan penutup para nabi, dan rasul. Beliau sadar, meski bani israel tetap saja membencinya.”
“Apakah berarti kebenaran bisa dibawa siapa saja?”
“Ya, saudaraku. Bahkan bangsa non Israelpun bisa. Itulah yang dimaksud, katakanlah yang Haq, meski itu pahit sekali.”
“Pengorbanan keakuan pembawa Al Haq, masih ditambah pengurbanan akan kenasaban. Meski para leluhurnya adalah juga pembawa Haq, dan penjaganya, tetapi jalur nasab Al Haq, disimpan rapat.”
“Beliau sadar dengan kedudukan demikian tinggi diterimanya, maka pengurbanan yang besar juga dilakukan untuk mengorbankan ke-aku-annya. Itulah “ana Ahmad, bilaa Mim, ana Arab, bilaa ‘ain..itulah hendaknya disaksikan oleh seluruh manusia”.
“Apa maksudnya Tuan Syech?”
“Teladanilah Nabi Muhammad, kelak kau akan memahaminya”.
NB: dialog ini rekayasa saya terinspirasi dari Novel Suluk Abdul Jalal.