Politik dan Peradaban

Sejarah manusia umumnya dilandaskan atas catatan mengenai sebuah masyarakat tertentu, baik berupa prasasti, catatan ekspedisi, atau lainnya. Selain itu, penanda yang juga sering dipakai adalah politik, berdirinya sebuah kerajaan. Sejarah perkembangan Jawa misalnya, kita selalu sibuk membuat penandanya melalui ada tidaknya kerajaan yang berdiri. Memang, sebuah kerajaan sebagai institusi yang tertib akan memudahkan kita memahami … Lanjutkan membaca Politik dan Peradaban

Suluk Syeh Kutub

Membaca naskah (yang sudah ditransliterasi) Jawa kuno mengasyikkan saya. Salah satunya adalah membaca naskah Suluk Kutub. Suluk ini tidak diketahui penulisnya, namun ditemukan dalam Suluk Acih Ranggasasmito. Jika apa yang tertulis di naskah ini merupakan pemikiran lazim di era Islam Demak, mungkin juga akan diberangus seperti Syeh Siti Jenar yang menyatakan, “Ora Ana Pengeran, Sing … Lanjutkan membaca Suluk Syeh Kutub

Siapa yang Menyembah dan Disembah?

SIAPA YANG MENYEMBAH DAN DISEMBAH? Syahadatmu meyakinkanmu telah mengenal dengan benar sesungguhnya Allah perbuatanmu, sifatmu, anggapanmu kausangka perbuatan, sifat dan anggapan Allah   Kesaksianmu atas Muhammad sebagai utusan kauyakini bahwa akhlakmu, cara ibadahmu semangat dan penialainmu adalah cerminan Muhammad Rasulullah   Takbir di awal shalatmu menakjubkan dirimu, betapa hebat engkau dibanding orang lain Ruku’mu meluruskan … Lanjutkan membaca Siapa yang Menyembah dan Disembah?

Kupat dan Lepet: Mengenal Asal Manusia

Kupat (Ketupat) hadir biasanya dengan Lepet. Tidak hanya sekedar isi yang berbeda, tetapi soal bentuk. Mereka melambangkan Lingga dan Yoni, tradisi kuno peradaban dunia. Kupat berisi beras, sebabagi yang pokok, sementara lepet berisi ketan untuk makanan tambahan penyempurna. Kupat adalah Yoni, ibu, asal. Lazimnya berbentuk lingkaran atau semacam elips. Tentu susah membentuknya dengan janur, maka … Lanjutkan membaca Kupat dan Lepet: Mengenal Asal Manusia

Tradisi Mudik dan Halal Bihalal

(Jejak Tradisi Halal Bihalal di Indonesia) Selain sumber dari majalah Narpawandawa, tradisi Halal Bihalal juga terekam dalam majalah Kejawen. Majalah Kejawen yang terbit 1 Desember 1937 (tahun XII) mengulas mengenai makna halal bihalal. Demikian pula tradisi mudik, ternyata juga sudah dilakukan menjadi tradisi sejak lama, di era kolonial. Berikut saya kutipkan (sudah alih bahasa Indonesia). … Lanjutkan membaca Tradisi Mudik dan Halal Bihalal

Makna Halal Bihalal (Jejak Tradisi Halal Bihalal di Indonesia)

Tradisi Halal Bihalal sebenarnya sudah lama dilakukan di Indonesia, bahkan pada era kolonial (sebelum tahun 1945). Dalam majalah Narpawandawa yang terbit 3 Maret 1936 mencatat adanya kegiatan Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh majalah tersebut. Kegiatan ini dibarengkan dengan rapat (pertemuan) tahunan para aktivis majalah tersebut. Halal bihalal diadakan tanggal 13 Januari 1936 di rumah Adiwijayan … Lanjutkan membaca Makna Halal Bihalal (Jejak Tradisi Halal Bihalal di Indonesia)

Jejak Tradisi Halal Bihalal di Indonesia

Tradisi masyarakat muslim di Indonesia, khususnya di Jawa yang mengadakan Halal BiHalal surat kabar/jurnal Narpawandawa Surakarta yang terbit 4 Mei 1935 sudah mencatat adanya tradisi tersebut. Berikut saya kutipkan: ...sampun dados tatacaranipun têtiyang Jawi, sabên ing dintên riyadin, Siyam, dipun utamèkakên silahtulrohmi, sarta alal bihalal, silatulrohmi têmbung Arab, têgêsipun: nyambung sih. Dene alal bihalal punika … Lanjutkan membaca Jejak Tradisi Halal Bihalal di Indonesia